PANGALENGAN | GALUH.INFO – Sejumlah program pembangunan di Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, mengalami kendala akibat pemangkasan Dana Desa dari pemerintah pusat.
Pengurangan anggaran yang mencapai sekitar 60 hingga 70 persen membuat sejumlah proyek infrastruktur terpaksa ditunda.
Kepala Desa Warnasari, Kiaa Sugiharto, mengatakan Dana Desa yang sebelumnya mencapai sekitar Rp1,6 miliar kini hanya tersisa sekitar Rp373 juta.
Kondisi tersebut membuat pemerintah desa harus menyesuaikan berbagai program pembangunan dengan anggaran yang tersedia.
Anggaran Menurun Drastis
Menurut Kiaa, penurunan anggaran yang cukup besar berdampak langsung terhadap perencanaan pembangunan desa.
Pemerintah desa bersama lembaga desa kini fokus menentukan program prioritas yang benar-benar mendesak.
“Biasanya anggaran desa sekitar Rp1,6 miliar. Sekarang hanya sekitar Rp373 juta. Kami harus menyesuaikan program dengan kemampuan anggaran dan aturan yang berlaku,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Pembangunan Jalan Dikurangi
Keterbatasan anggaran juga memengaruhi pembangunan infrastruktur jalan. Salah satunya proyek jalan hotmix di Kampung Pasir Ucing yang semula direncanakan sepanjang 210 meter.
Namun, karena keterbatasan dana dan kenaikan harga material, pemerintah desa mengurangi volume pekerjaan menjadi 150 meter.”
Pemerintah Desa Warnasari telah berkoordinasi dengan Inspektorat terkait perubahan tersebut.
Hasil koordinasi memperbolehkan penyesuaian volume pekerjaan dengan syarat adanya keterangan dari penyedia material mengenai kenaikan harga.
BLT Dana Desa Ikut Terdampak
Selain pembangunan fisik, pengurangan anggaran juga berdampak pada program Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.
Jika sebelumnya penerima bantuan mencapai sekitar 60 orang, kini jumlah penerima hanya lima orang. Masing-masing penerima mendapatkan bantuan sebesar Rp300 ribu per bulan.
Banyak Program Infrastruktur Tertunda
Kiaa mengungkapkan masih banyak rencana pembangunan jalan setapak dan fasilitas umum lainnya yang belum dapat mereka laksanakan sesuai rencana
Meski demikian, pemerintah desa tetap berupaya melaksanakan pembangunan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran yang tersedia.
Dampak Dirasakan Masyarakat
Menurut Kiaa, dampak pengurangan Dana Desa tidak hanya dirasakan pemerintah desa.
Masyarakat juga ikut merasakan dampaknya, terutama petani, pedagang, dan keluarga berpenghasilan rendah.
Kenaikan harga kebutuhan pokok serta berkurangnya bantuan sosial semakin menambah beban ekonomi masyarakat.
Dorong Swadaya dan Gotong Royong
Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, Pemerintah Desa Warnasari terus mengajak masyarakat menghidupkan kembali budaya gotong royong dan swadaya.
Pemerintah desa berharap pembangunan secara mandiri tetap berjalan untuk mendukung kemajuan desa.
“Kami terus mengajak masyarakat agar pembangunan yang memungkinkan secara swadaya dan gotong royong tetap berjalan demi kemajuan Desa Warnasari,” kata Kiaa.
Pembangunan Desa Tetap Berlanjut
Pemerintah Desa Warnasari berharap kondisi anggaran kembali membaik sehingga mereka dapat melanjutkan berbagai program pembangunan yang tertunda.
Dengan dukungan masyarakat dan semangat gotong royong, desa optimistis pembangunan tetap berjalan meskipun dalam keterbatasan anggaran.
asted







Komentar