JAKARTA, GALUH.INFO ~ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meresmikan tujuh desa pesisir di Indonesia sebagai Tsunami Ready Community. UNESCO Intergovernmental Oceanographic Commission (UNESCO-IOC) memberikan pengakuan tersebut. BMKG mengumumkannya bertepatan dengan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2026.
Program Tsunami Ready Community bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir menghadapi ancaman tsunami. Karena itu, setiap desa wajib memiliki peta kawasan rawan bencana, jalur dan rencana evakuasi yang jelas, serta sistem peringatan dini yang aktif.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa peringatan dua dekade tsunami Pangandaran harus menjadi momentum untuk memperkuat budaya siaga bencana di seluruh lapisan masyarakat.
Tujuh Desa Raih Pengakuan UNESCO-IOC
BMKG meresmikan tujuh desa pesisir sebagai Tsunami Ready Community pada Kamis (16/7/2026). Ketujuh desa tersebut tersebar di sejumlah wilayah pesisir Indonesia.
Desa yang memperoleh pengakuan meliputi Desa Tua Pejat di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Desa Amping Parak di Sumatra Barat. Selain itu, BMKG juga menetapkan Desa Citepus dan Desa Cikakak di Pelabuhanratu, Jawa Barat. Sementara itu, tiga desa lain berada di Provinsi Bengkulu, yakni Desa Teluk Serpang, Desa Penurunan, dan Desa Lempuing.
Melalui program tersebut, BMKG bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan mendorong masyarakat agar mampu mengenali ancaman tsunami. Selain itu, warga juga harus memahami jalur evakuasi dan mampu merespons peringatan dini secara mandiri.
BMKG Kini Sebarkan Peringatan Dini Tsunami Kurang dari Tiga Menit
Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) berkembang pesat sejak tsunami Aceh 2004. Selanjutnya, BMKG mempercepat pengembangannya setelah tsunami Pangandaran 2006.
Kini, BMKG mengoperasikan jaringan sensor seismograf real-time, ratusan stasiun pengukur pasang surut, serta sistem komputasi berkinerja tinggi.
“BMKG kini mampu menyiarkan informasi peringatan dini tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit setelah gempa bumi terjadi,” kata Faisal.
Meski demikian, Faisal menekankan bahwa teknologi saja belum cukup. Menurutnya, masyarakat juga harus memiliki kesiapsiagaan yang baik.
“Edukasi harus terus berjalan. Simulasi rutin juga penting. Kolaborasi lintas sektor harus tetap kuat,” ujarnya.
Kesiapsiagaan Masyarakat Menjadi Faktor Penentu
Selanjutnya, Faisal mengingatkan bahwa teknologi pemantauan tidak akan efektif jika masyarakat tidak memahami cara merespons ancaman tsunami. Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat harus memanfaatkan informasi peringatan dini BMKG sebagai dasar untuk segera melakukan evakuasi.
“Kesiapan dalam hitungan detik menjadi ujung tombak keselamatan,” tegas Faisal.
Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menilai tantangan terbesar mitigasi tsunami terletak pada upaya menjaga kesadaran masyarakat. Menurutnya, karakter tsunami yang jarang terjadi membuat sebagian masyarakat mulai melupakan risikonya.
Oleh sebab itu, Nelly mengajak seluruh pihak untuk menjadikan peringatan 20 tahun tsunami Pangandaran sebagai pengingat penting agar budaya siaga bencana terus tumbuh.
“Kesiapsiagaan akan terwujud jika kita menjaga kesadaran itu tetap hidup. Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.
UNESCO Ingatkan Tsunami Tidak Selalu Diawali Gempa Besar
Head of ICG/IOTWMS Secretariat UNESCO-IOC, Srinivas Kumar Tummala, mengingatkan bahwa ancaman tsunami tidak selalu diawali gempa yang terasa sangat kuat. Karena itu, masyarakat tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan guncangan sebagai indikator munculnya tsunami.
“Memperingati tsunami Pangandaran hari ini, mari kita hormati mereka yang kehilangan nyawa. Kita juga harus memperkuat sains, kesiapsiagaan, dan ketangguhan komunitas,” katanya.
Selain itu, Srinivas juga menyoroti masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai tsunami nonseismik. Menurutnya, peristiwa tsunami di Palu, Selat Sunda, hingga letusan Gunung Tonga menunjukkan bahwa edukasi dan mitigasi harus terus diperkuat agar masyarakat semakin siap menghadapi berbagai jenis ancaman tsunami.
FAUZI












Komentar