Kelompok Tani Lingkungan RT 03 Purwasari Banjarsari Sukses Panen Cabai 23 Kali, Raup Omzet Rp30 Juta

Warga Manfaatkan Lahan Kosong untuk Tingkatkan Ekonomi dan Kas Lingkungan

Berita, Daerah17 Dilihat

CIAMIS | GALUH.INFO Kekompakan warga RT 03 RW 01 Desa Purwasari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, membuahkan hasil manis.

Melalui pemanfaatan lahan kosong, warga berhasil mengembangkan budidaya cabai yang kini telah memasuki panen ke-23 dengan omzet mencapai sekitar Rp30 juta.

Ketua pengelola kelompok tani lingkungan RT 03 Yoga mengatakan, program budidaya cabai lahir dari kesadaran warga untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif.

Mayoritas warga setempat berprofesi sebagai petani sehingga memiliki pengalaman dalam bercocok tanam.

“Kami memanfaatkan lahan kosong yang ada di lingkungan. Alhamdulillah warga kompak, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu ikut terlibat dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Tanam 784 Pohon Cabai di Lahan 40 Bata

Kelompok tani lingkungan tersebut mengelola lahan seluas sekitar 40 bata. Di atas lahan itu, warga menanam sekitar 784 pohon cabai yang dirawat secara gotong royong.

Setiap masa panen, warga mampu menghasilkan antara 30 hingga 40 kilogram cabai. Hingga saat ini, tanaman tersebut telah memasuki panen ke-23 dan masih terus berproduksi.

Menurutnya, keberhasilan budidaya cabai tidak lepas dari kerja sama seluruh warga yang secara sukarela meluangkan waktu untuk merawat tanaman.

Modal Rp5 Juta Berhasil Berkembang Jadi Omzet Rp30 Juta

Pada awal penanaman, warga mengumpulkan modal sekitar Rp5 juta untuk membeli bibit dan kebutuhan budidaya lainnya.

Seiring berjalannya waktu, hasil panen terus meningkat hingga menghasilkan omzet sekitar Rp30 juta.

Dari jumlah tersebut, kelompok memperoleh keuntungan yang cukup besar untuk mendukung berbagai kegiatan lingkungan.

“Alhamdulillah omzetnya kurang lebih sudah mencapai Rp30 juta. Keuntungannya sekitar setengah dari total omzet,” katanya.

Hasil Panen Masuk Kas Lingkungan

Berbeda dengan kelompok tani pada umumnya, hasil panen cabai di RT 03 tidak dibagikan kepada individu. Seluruh keuntungan masuk ke kas lingkungan untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat.

Warga memanfaatkan dana tersebut sebagai modal tanam berikutnya sekaligus membiayai berbagai keperluan lingkungan.

“Hasil panen kami masukkan ke kas lingkungan. Dana itu kami gunakan untuk modal tanam berikutnya dan kebutuhan warga seperti pengadaan sarana lingkungan,” jelasnya.

Warga Harapkan Pembinaan dan Dukungan Modal dari Pemerintah

Meski berhasil mengembangkan budidaya cabai secara mandiri, warga mengaku masih menghadapi kendala dalam hal permodalan dan pembinaan teknis.

Mereka berharap pemerintah daerah, penyuluh pertanian lapangan (PPL), maupun Dinas Pertanian dapat memberikan pendampingan agar program tersebut berkembang lebih besar.

“Kami sangat berharap ada pembinaan dari pemerintah maupun PPL. Kami memiliki semangat dan kemampuan bertani, tetapi masih membutuhkan dukungan modal dan pendampingan,” ungkapnya.

Berencana Perluas Lahan Tanam

Keberhasilan budidaya cabai mendorong warga untuk memperluas area tanam. Namun rencana tersebut masih terkendala keterbatasan modal dan kesiapan lahan.

Meski demikian, warga optimistis program pertanian berbasis gotong royong tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat sekitar.

“Kami memiliki keinginan untuk memperluas lahan tanam. Mudah-mudahan ke depan ada dukungan sehingga program ini bisa berkembang lebih besar lagi,” pungkasnya.

fauzi

Komentar