CIAMIS, GALUH.INFO – Stan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Panumbangan menarik perhatian besar pada Hari Krida Pertanian (HKP) ke-54 Kabupaten Ciamis di Lapang Sepak Bola Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Senin (13/7/2026). Stan itu menampilkan singkong raksasa dengan panjang sekitar satu meter dan diameter 20 hingga 30 sentimeter.
Umbi berukuran jumbo itu langsung memancing rasa penasaran pengunjung yang memadati area pameran. Banyak warga berhenti untuk melihat lebih dekat, berfoto bersama singkong besar tersebut, dan bertanya soal teknik budidaya yang menghasilkan umbi sebesar itu. Sebagian pengunjung juga ingin tahu apakah singkong raksasa itu masih layak diolah menjadi makanan.
Salah seorang pengunjung, Ibu rita, mengaku baru pertama kali melihat singkong dengan ukuran seperti itu.
“Saya baru pertama kali lihat singkong sebesar ini. Awalnya saya kira sudah keras dan tidak bisa dimakan. Ternyata masih bisa diolah jadi makanan. Makanya penasaran sekali,” ujarnya.
Petani Panumbangan Kembangkan Singkong Atum dengan Teknik Khusus
Di balik singkong raksasa itu, ada Edi Junaedi (60), petani asal Desa Payungagung, Kecamatan Panumbangan. Mantan perangkat desa itu mengembangkan varietas Singkong Atum selama bertahun-tahun dengan teknik budidaya yang ia susun sendiri.
Edi mendapat bibit Singkong Atum dari rekannya di Kabupaten Kuningan. Setelah ia menanam bibit itu di lahannya, hasil panennya tumbuh jauh lebih besar dibanding singkong biasa.
“Dulu teman saya dari Kuningan menawarkan bibit ini. Saya coba tanam dengan cara yang biasa saya lakukan, ternyata hasilnya sangat bagus. Ukurannya bisa jauh lebih besar dibanding singkong pada umumnya,” kata Edi.
Menurut Edi, varietas Singkong Atum mulai berkembang dari benih bantuan Pemerintah Kabupaten Kuningan sekitar tahun 1993. Nama “Atum” berasal dari nama orang yang pertama kali memperkenalkan varietas tersebut, bukan dari istilah bom atom seperti yang sering orang kira.
Singkong Jumbo Cocok untuk Olahan, Bukan untuk Direbus
Meski ukurannya besar, singkong itu tidak cocok untuk direbus karena Edi memanennya saat tanaman berusia sekitar dua tahun. Pada usia itu, tekstur singkong sudah berserat.
Namun, kondisi itu justru membuat singkong Atum sangat cocok untuk bahan baku makanan olahan tradisional seperti deblo, comet, dan berbagai camilan berbahan singkong.
“Kalau direbus memang sudah berserat karena usianya dua tahun. Tapi untuk bahan olahan justru bagus. Makanya banyak yang mencari untuk diolah,” jelas Edi.
Teknik Budidaya Jadi Kunci Singkong Berukuran Besar
Edi menegaskan ukuran singkong yang besar tidak hanya bergantung pada varietas. Ia menilai teknik budidaya sejak awal tanam memegang peran utama.
Ia membuat lubang tanam sedalam sekitar 75 sentimeter dengan lebar satu meter. Setelah itu, ia mengisi lubang dengan kompos, tanah, pupuk urea, kompos lagi, pupuk kandang, dan pupuk NPK. Ia lalu mendiamkan media tanam itu selama sekitar satu pekan sebelum menanam bibit.
Edi juga menanam batang singkong dengan cara direbahkan, bukan ditancapkan tegak. Setelah tunas tumbuh, ia hanya memelihara satu tunas terbaik dan membuang tunas lainnya agar umbi tumbuh lebih maksimal.
“Batangnya juga tidak ditancapkan tegak, tetapi direbahkan. Nantinya hanya satu tunas yang dipelihara, sedangkan tunas lainnya dibuang supaya pertumbuhan umbinya maksimal,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa petani lain belum tentu mendapat hasil yang sama meski memakai varietas yang sama.
“Varietasnya sama, tetapi kalau teknik menanamnya berbeda, hasilnya juga berbeda. Kuncinya ada di pengolahan lahan dan perawatan sejak awal,” tuturnya.
Produktivitas Tinggi Meski Harga Singkong Turun
Singkong Atum yang dibudidayakan Edi menghasilkan panen yang tinggi. Dari sekitar 30 pohon di lahan seluas kurang lebih dua petak sawah, ia mampu memanen lebih dari dua ton singkong. Bahkan, satu pohon pernah menghasilkan umbi seberat sekitar 120 kilogram dengan hingga 14 bonggol. Saat panen, enam orang dewasa harus menarik umbi itu dari tanah.
Selain singkong, Edi juga menanam jagung dan berbagai tanaman pangan lain. Ia menjual hasil panennya mengikuti harga pasar. Saat ini harga singkong berada di kisaran Rp700 per kilogram, turun dari harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp2.000 per kilogram.
Meski harga turun, singkong raksasa milik Edi tetap menjadi daya tarik utama di Hari Krida Pertanian Kabupaten Ciamis. Keberhasilan itu menunjukkan bahwa inovasi teknik budidaya mampu menghasilkan produk pertanian yang unik, bernilai ekonomi, dan menginspirasi petani lain untuk mengembangkan potensi pertanian lokal.
FAUZI














Komentar