Sudaryono Sidak Dapur MBG Bogor Pukul 03.00 WIB, Kepala SPPG Curhat Distribusi Makanan untuk Ibu Hamil Lebih Sulit

Berita, Daerah5 Dilihat

BOGOR, GALUH.INFO – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Sidak tersebut bertujuan memastikan seluruh proses penyediaan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memenuhi standar kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas sebelum didistribusikan kepada para penerima manfaat.

Sudaryono memulai sidak sejak pukul 03.00 WIB. Ia mendatangi SPPG Pasir Kuda 03 untuk melihat langsung proses pengolahan makanan yang akan dikirim kepada pelajar, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Melalui akun Instagram resminya, Sudaryono menjelaskan alasan melakukan sidak pada waktu dini hari.

“Jam 3 pagi di Bogor. Saya sidak ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Pasir Kuda 03,” ujar Sudaryono.

Ia menegaskan bahwa pengawasan harus dimulai sejak proses memasak agar kualitas makanan tetap terjaga.

“Melihat proses masak makanan buat anak-anak kita. Pegawai kaget melihat kedatangan kami,” katanya.

Kepala SPPG Curhat Soal Distribusi MBG

Dalam sidak tersebut, Sudaryono berdialog langsung dengan Kepala SPPG Pasir Kuda. Dari pembicaraan itu, ia mengetahui tantangan terbesar bukan hanya proses memasak, tetapi juga distribusi makanan kepada penerima manfaat.

Kepala SPPG mengaku harus menyalurkan ribuan paket makanan setiap hari ke berbagai lokasi.

“Tadi yang dapur pertama, dia mengirimkan porsinya 2.800-an porsi,” kata Sudaryono.

Menurutnya, sekitar 2.000 porsi ditujukan kepada kelompok 3B, yaitu balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Petugas mengirimkan makanan tersebut ke sejumlah posyandu. Sementara itu, sisa paket didistribusikan ke sekolah-sekolah.

Distribusi ke Posyandu Dinilai Lebih Rumit

Sudaryono menjelaskan bahwa distribusi makanan ke sekolah relatif lebih mudah karena seluruh penerima berada dalam satu lokasi. Sebaliknya, penyaluran ke posyandu membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak karena titik pengiriman tersebar di berbagai wilayah.

“Kalau sekolah kan sekali drop banyak, tapi kalau posyandu ini, ya kan ibu hamil, nggak terkonsentrasi dalam satu tempat,” ujarnya.

Ia memahami kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola SPPG.

“Jadi dia ada kerepotan karena ngantar ke banyak posyandu tadi,” tambahnya.

Meski demikian, Sudaryono meminta seluruh SPPG tetap menjaga kualitas pelayanan agar seluruh penerima manfaat memperoleh makanan bergizi tepat waktu.

Sidak Jadi Bagian dari Pengawasan Rutin

Sudaryono menjelaskan bahwa sidak bukan hanya bertujuan melakukan pengawasan. Ia juga ingin memberikan motivasi kepada pengelola SPPG yang telah menjalankan tugas sesuai standar operasional.

“Sidak ini untuk menyemangati SPPG yang sudah bekerja dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya, pengawasan langsung menjadi bagian penting untuk memastikan Program MBG berjalan sesuai tujuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

BGN Siap Tutup SPPG yang Tidak Penuhi Standar

Sudaryono menegaskan Badan Gizi Nasional tidak akan mentoleransi pelanggaran terhadap standar kebersihan dan keamanan pangan.

Ia mengungkapkan sebagian besar SPPG telah bekerja dengan baik. Namun, masih terdapat beberapa dapur yang memerlukan pembenahan.

“Secara umum, banyak SPPG yang bagus, tetapi masih ada 1-2 SPPG yang belum memenuhi standar,” ungkapnya.

BGN akan memberikan kesempatan kepada pengelola untuk melakukan perbaikan. Namun, apabila pengelola tidak mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan, pemerintah akan mengambil langkah tegas.

“Yang belum itu akan kami benahi, dan kalau memang tidak bisa diperbaiki, akan kami tutup,” tegas Sudaryono.

Pengawasan Diperkuat demi Kualitas Program MBG

Sidak yang dilakukan Sudaryono menunjukkan komitmen Badan Gizi Nasional dalam menjaga mutu Program Makan Bergizi Gratis sejak tahap produksi hingga distribusi. Pemerintah berharap pengawasan rutin dapat memastikan setiap makanan yang diterima masyarakat memenuhi standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan.

Selain itu, hasil sidak akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan efektivitas distribusi, terutama bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang menerima layanan melalui posyandu.

fauzi

Komentar