Viral Penjual Sarapan ‘MBG’ di Tebet, Branding Unik Diduga Tiru Logo BGN Tarik Perhatian Warganet

Berita, Nasional23 Dilihat

GALUH INFO – Aksi seorang penjual makanan di Tebet menarik perhatian publik setelah viral di media sosial. Pedagang tersebut menjadi perbincangan karena mempromosikan dagangannya dengan konsep branding yang unik dan kreatif.

Perbincangan ini mencuat setelah sebuah unggahan di Instagram dibagikan oleh akun @kualimerahputih pada Kamis, 9 April 2026. Dalam unggahan tersebut terlihat lapak sarapan yang menggunakan istilah dan logo yang diduga menyerupai milik Badan Gizi Nasional (BGN).

Kemunculan nama tersebut sontak menarik perhatian warganet. Banyak yang menilai branding itu identik dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah.

“Sempat diperingatkan warganet karena nama ‘MBG’ dianggap mirip program pemerintah,” demikian keterangan dalam unggahan tersebut.

Unggahan itu juga menyoroti kekhawatiran publik terkait potensi kesalahpahaman. “Takutnya bikin salah paham, apalagi banyak yang mengira ada kaitannya dengan program resmi,” tulis akun tersebut.

Jualan Sarapan ‘MBG’
Dalam postingan yang sama, pedagang tersebut menjelaskan bahwa ia menjual menu sarapan dengan harga terjangkau.Pada lapaknya tertulis, “Sarapan MBG, mantap banget gila, 12.000 saja.”

Tulisan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. Selain menawarkan harga ekonomis, konsep branding yang nyeleneh membuat lapak tersebut mudah diingat.

Di sisi lain, logo yang terpasang di lapak itu juga memicu perhatian karena dinilai menyerupai identitas lembaga resmi pemerintah.

Namun, sang penjual memberikan penjelasan bahwa singkatan tersebut bukan merujuk pada program negara. Ia menyebut BGN sebagai “Badan Ganjel Nyarap” dan MBG sebagai “Mantap Banget Gila.”

Murni Strategi Branding
Pemilik lapak menegaskan bahwa penggunaan istilah tersebut murni sebagai strategi pemasaran dan tidak memiliki hubungan dengan program pemerintah.
“Dan tidak terkait dengan program apa pun,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa usahanya turut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi. Hal ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi lokal.

Keunikan konsep tersebut dinilai sebagian kalangan sebagai strategi branding kreatif yang efektif menarik perhatian konsumen. Namun demikian, penggunaan istilah yang mirip dengan program pemerintah dianggap berisiko menimbulkan salah tafsir.

Fenomena ini pun memicu perdebatan di ruang digital. Ada yang memuji kreativitasnya, tetapi tidak sedikit yang mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan simbol yang menyerupai lembaga resmi.

Hingga Kamis, 9 April 2026, pukul 19.30 WIB, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 1,5 ribu pengguna Instagram dan terus menuai beragam komentar dari warganet.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa inovasi dalam pemasaran perlu diimbangi dengan tanggung jawab, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Fauzi GI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *