41 Sekolah di Cipaku Hidupkan Kembali Olahraga Tradisional, Warisan Budaya Jadi Perhatian

Berita, Pendidikan27 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO Lapang Sepak Bola Kidang Kencana, Desa Cieurih, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, kembali menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal dan memainkan olahraga tradisional, Kamis, 17 September 2026.

Sekitar 41 sekolah mengikuti kegiatan Olahraga Tradisional (Oltrad) Tingkat Kecamatan Cipaku. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertahankan permainan warisan budaya di tengah perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.

Mengusung tema “Melestarikan Tradisi, Membangun Generasi Berprestasi”, Oltrad tidak hanya menghadirkan kompetisi. Kegiatan ini juga mengajak peserta mengembangkan ketangkasan, koordinasi, kekompakan, komunikasi, dan kerja sama.

Lima cabang olahraga tradisional masuk dalam pertandingan, yakni hadang, gobak sodor, bakiak atau terompah panjang, egrang, dan sumpitan.

41 Sekolah Ikuti Pertandingan

Ketua KKG PJOK Kecamatan Cipaku, Hendi Norman, menjelaskan peserta berasal dari 41 sekolah yang terbagi dalam tujuh gugus.

Panitia menyesuaikan sistem pertandingan dengan karakter setiap cabang. Hadang dan gobak sodor berlangsung antargugus. Sementara bakiak atau terompah panjang, egrang, serta sumpitan berlangsung antarsekolah dasar.

“Yang dipertandingkan ada lima cabang. Hadang dan gobak sodor itu antargugus, sedangkan tiga cabang lainnya dipertandingkan antarsekolah,” ujar Hendi.

Pembagian tersebut membuat peserta memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan sesuai karakter permainan yang mereka ikuti.

Permainan Tradisional Bawa Nilai Pendidikan

Bagi penyelenggara, olahraga tradisional tidak sekadar menghadirkan aktivitas fisik. Permainan kelompok juga memberikan pengalaman sosial bagi peserta didik.

Peserta harus berkomunikasi dengan anggota tim, memahami aturan, menjaga kekompakan, dan menghormati lawan. Proses tersebut dapat menjadi ruang belajar untuk membangun kerja sama dan sportivitas.

Oltrad juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan kemampuan fisik, terutama kelincahan dan ketangkasan.

Namun, Hendi menegaskan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mencari peserta dengan kemampuan terbaik.

“Yang ingin kita tunjukkan adalah kelincahan anak-anak sekaligus menjaga agar warisan budaya tradisional ini jangan sampai hilang. Karena itu, setiap tahun kegiatan seperti ini terus digelar untuk anak-anak didik,” katanya.

Tantangan Permainan Tradisional di Era Digital

Perkembangan teknologi ikut mengubah pola aktivitas anak-anak. Berbagai permainan berbasis perangkat digital semakin mudah mereka akses.

Sementara itu, permainan tradisional membutuhkan ruang terbuka dan interaksi secara langsung. Kondisi tersebut membuat kegiatan Oltrad memiliki peran dalam menghadirkan kembali pengalaman bermain bersama di tengah lingkungan peserta didik.

Hadang, gobak sodor, bakiak, egrang, dan sumpitan memiliki aturan masing-masing. Peserta harus bergerak aktif, berkomunikasi, menyusun strategi, serta bekerja sama dengan teman satu tim.

Dari aktivitas tersebut, peserta dapat mempraktikkan nilai disiplin, kebersamaan, komunikasi, ketangkasan, dan sportivitas secara langsung.

Tradisi Tak Cukup Hanya Dikenang

Pelaksanaan Oltrad Kecamatan Cipaku mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Ciamis bersama KKG PJOK Kecamatan Cipaku.

Penyelenggara berharap kegiatan tersebut menjaga keberadaan permainan tradisional di kalangan generasi muda. Pelestarian budaya, dalam konteks ini, tidak berhenti pada pengenalan nama atau sejarah permainan.

Hendi juga mengingatkan peserta agar tidak menjadikan hasil pertandingan sebagai satu-satunya tujuan.

“Anak-anak harus selalu semangat, ceria, menjaga tradisi warisan budaya kita, khususnya olahraga tradisional. Tetap semangat dan jaga sportivitas,” pungkasnya.

Kegiatan Oltrad Kecamatan Cipaku menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan anak.

Ketika permainan tradisional kembali hadir di lapangan, warisan tersebut tidak sekadar menjadi cerita dari generasi sebelumnya. Anak-anak dapat mengenal, memainkan, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

uzi

Komentar