Sri Mukti Farm Gegempalan Kembangkan Agrowisata Petik Semangka, Dorong Pemanfaatan Lahan Tidur

Berita, Daerah21 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO — Terobosan pemanfaatan lahan pertanian pada musim kemarau mulai dikembangkan di Desa Gegempalan, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis. Melalui Sri Mukti Farm, masyarakat diperkenalkan dengan budidaya semangka yang dikemas dalam kegiatan agrowisata petik semangka perdana.

Program ini dikembangkan melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan perusahaan benih. Inisiatif tersebut bertujuan mengubah lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi sumber penghasilan baru sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan pertanian berbasis agribisnis.

PA Tatang Lesmana menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir lahan di wilayah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal ketika memasuki musim kemarau. Kondisi itu mendorong munculnya gagasan untuk mencoba komoditas pertanian yang dinilai memiliki potensi ekonomi.

“Harapannya, masyarakat bisa melihat bahwa menanam semangka juga dapat menghasilkan uang. Nilai ekonominya bisa lebih tinggi, sehingga lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan secara maksimal dapat menjadi produktif,” ujarnya.

Lahan 100 Bata Ditanami Semangka dan Cabai

Dalam pengembangan awal, Sri Mukti Farm memanfaatkan lahan sekitar 100 bata untuk budidaya semangka yang ditumpangsarikan dengan tanaman cabai rawit atau cengek.

Menurut Tatang, lahan tersebut diperkirakan dapat menampung sekitar 1.200 tanaman semangka. Dengan pengelolaan yang baik, budidaya tersebut diharapkan memberikan hasil yang menjanjikan bagi petani.

Ia menggambarkan potensi produksi melalui perkiraan jumlah buah dan bobot panen. Jika sekitar 1.000 buah memiliki berat rata-rata tiga kilogram, hasilnya dapat mencapai tiga ton semangka. Dengan asumsi harga Rp7.000 per kilogram, nilai penjualan kotor berpotensi mencapai sekitar Rp21 juta.

Angka tersebut masih berupa ilustrasi potensi pendapatan, bukan hasil penjualan aktual. Perhitungan keuntungan bersih tetap harus memperhitungkan biaya benih, pupuk, perawatan, tenaga kerja, air, serta biaya produksi lainnya.

Meski begitu, budidaya semangka menjadi salah satu alternatif yang ingin diperkenalkan kepada masyarakat agar tidak hanya bergantung pada komoditas pertanian yang selama ini dominan.

Agribisnis Jadi Alternatif Selain Padi dan Jagung

Tatang menyebutkan, masyarakat Gegempalan selama ini lebih banyak mengembangkan tanaman padi dan jagung. Melalui Sri Mukti Farm, masyarakat didorong melihat peluang komoditas lain dengan menyesuaikan kondisi lahan, musim, dan kebutuhan pasar.

Ia mencontohkan budidaya cabai yang telah dikembangkan di lahan lain. Menurut keterangannya, penjualan hasil panen cabai sebelumnya menghasilkan perputaran omzet sekitar Rp18 juta hingga Rp20 juta dari sekitar 1.000 tanaman.

Ia juga menyebutkan, pada salah satu panen, hasil cabai mencapai sekitar 25 kilogram dengan harga Rp55.000 per kilogram. Data tersebut menjadi gambaran peluang ekonomi dari komoditas hortikultura, meskipun hasil dan harga dapat berubah mengikuti kondisi produksi serta pasar.

Ke depan, pengembangan pertanian di Gegempalan diharapkan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan minat masyarakat terhadap agribisnis.

Siapkan Pengembangan Rumput Emas dan Persemaian

Selain semangka dan cabai, Sri Mukti Farm merencanakan uji coba penanaman rumput emas di lahan sekitar 350 bata atau kurang lebih setengah hektare. Menurut Tatang, tanaman tersebut direncanakan untuk dikembangkan sebagai bahan baku kebutuhan industri kosmetik.

Rencana tersebut masih memerlukan tahapan persiapan, termasuk persemaian dan kerja sama dengan perusahaan terkait. Sri Mukti Farm juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan benih lain untuk mendukung pengembangan berbagai jenis tanaman.

Pengembangan persemaian diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan komoditas pertanian yang sesuai dengan potensi lahan dan kebutuhan pasar.

Manfaatkan Air Pembuangan untuk Tanaman

Persoalan ketersediaan air menjadi salah satu hal penting dalam budidaya pertanian pada musim kemarau. Tatang menjelaskan bahwa kegiatan pertanian di Sri Mukti Farm memanfaatkan air yang dibuang ketika dilakukan pengurasan instalasi pompa air atau irigasi pompa (irpom).

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan tersebut dilakukan terhadap air yang menurut keterangannya memang dibuang saat pengurasan, bukan dengan mengambil alokasi air yang diperuntukkan bagi persawahan.

Menurut Tatang, air dari proses pengurasan itu dialirkan untuk membantu penyiraman tanaman di lahan sekitar. Pemanfaatan tersebut juga diharapkan mendukung penghijauan dan mengurangi kondisi lahan yang sebelumnya gersang saat kemarau.

Meski demikian, penggunaan air dari fasilitas irigasi pemerintah tetap perlu mengikuti ketentuan teknis dan peruntukan yang berlaku. Kejelasan mengenai mekanisme pengurasan serta pemanfaatan air menjadi penting agar kegiatan pertanian tidak mengganggu kebutuhan irigasi untuk sawah.

Dorong Perubahan Pola Pikir Petani

Melalui agrowisata petik semangka perdana, Sri Mukti Farm berharap masyarakat semakin tertarik mengembangkan pertanian yang lebih beragam dan bernilai ekonomi.

Tatang menilai petani perlu mampu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim. Lahan yang sesuai untuk padi diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal, sementara lahan lain bisa dikembangkan dengan komoditas alternatif yang memiliki peluang pasar.

Ia juga menyampaikan rencana penanaman semangka berikutnya di area sebelah utara lokasi saat ini. Jika persiapan berjalan sesuai rencana, panen berikutnya diharapkan dapat berlangsung menjelang pergantian tahun.

Inisiatif Sri Mukti Farm di Gegempalan menjadi salah satu upaya memperkenalkan pertanian berbasis agribisnis kepada masyarakat. Keberlanjutan program ini akan bergantung pada produktivitas tanaman, kepastian pasar, pengelolaan biaya, ketersediaan air, serta keterlibatan masyarakat dan mitra usaha.

Dengan pengelolaan yang terukur, lahan yang sebelumnya kurang produktif berpeluang dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru sekaligus ruang edukasi pertanian bagi masyarakat.

uzi

Komentar