Air Kolam Warga Imbanagara Ciamis Dipastikan Tercemar, DPRKPLH Telusuri Sumber Penyebab

Berita, Daerah201 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO –Hasil uji laboratorium memastikan air yang mengalir ke ratusan kolam budidaya ikan milik warga di Dusun Lebak Lipung, RW 15, Desa Imbanagara, Kecamatan Ciamis, telah tercemar. Temuan ini memperkuat dugaan awal warga setelah terjadi kematian ikan secara massal pada 17 Juli 2026.

Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis mengambil sampel air setelah menerima laporan adanya perubahan kondisi air di kolam warga. Saat kejadian, air dilaporkan berubah menjadi kehitaman dan mengeluarkan bau menyengat yang menyebar melalui saluran irigasi hingga masuk ke area budidaya ikan.

Kondisi tersebut kemudian memicu kerugian besar bagi para pembudidaya ikan di wilayah tersebut. Namun hingga kini, pemerintah daerah belum menetapkan sumber pasti pencemaran yang menyebabkan peristiwa itu.

Sekretaris DPRKPLH Ciamis, Aris Taufik Abadi, menegaskan bahwa hasil laboratorium hanya menunjukkan adanya pencemaran, tetapi belum mengungkap asalnya.

“Berdasarkan hasil pengujian lab memang disimpulkan tercemar. Hanya saja belum bisa dipastikan dari mana sumbernya. Ini perlu penelusuran lebih lanjut dan tidak bisa langsung menyimpulkan,” kata Aris, Kamis (20/8/2026).

Lima Parameter Air Melampaui Baku Mutu

Aris menjelaskan, hasil uji laboratorium menemukan sedikitnya lima parameter kualitas air yang tidak memenuhi baku mutu lingkungan. Parameter tersebut meliputi Total Suspended Solids (TSS), Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), ammonia, dan total phosphate.

Menurutnya, kombinasi tingginya kadar ammonia, phosphate, COD, serta TSS yang disertai rendahnya kadar DO menunjukkan adanya beban pencemar yang cukup serius di badan air tersebut.

Temuan ini sejalan dengan kondisi lapangan yang sebelumnya dilaporkan warga. Sebelum hasil laboratorium keluar, masyarakat sudah melihat perubahan warna air menjadi gelap serta mencium bau tidak sedap yang berasal dari aliran irigasi menuju kolam ikan.

DPRKPLH Ciamis Telusuri Sumber Pencemaran

Meski hasil uji sudah keluar, DPRKPLH Ciamis belum mengambil kesimpulan terkait pihak yang bertanggung jawab. Pemerintah daerah memilih melakukan penelusuran lanjutan dengan pendekatan teknis dan verifikasi lapangan.

Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah melakukan koordinasi dengan pelaku usaha atau pemilik pabrik yang berada di sekitar aliran saluran air. Pemeriksaan ini bertujuan mencocokkan hasil uji laboratorium dengan karakteristik limbah yang dihasilkan.

“Harus ditempuh juga dengan pemilik pabrik supaya kita bisa mendalami dan mencocokkan antara hasil yang dilihat di saluran dengan apa yang mereka hasilkan,” ujarnya.

Aris menegaskan bahwa proses penelusuran harus dilakukan secara objektif dan berbasis data. DPRKPLH tidak ingin terburu-buru menyimpulkan tanpa bukti yang kuat dari hasil pemeriksaan lanjutan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pendekatan perbaikan terhadap pengelolaan limbah industri agar aktivitas usaha tetap berjalan tanpa merusak lingkungan sekitar.

“Pada intinya, mereka mau berbenah dan memperbaiki. Di satu sisi masih bisa menjalankan usahanya, kemudian lingkungannya juga tetap terjaga,” tegas Aris.

Harapan Pemulihan dan Pencegahan Kejadian Serupa

Dengan adanya hasil uji laboratorium, DPRKPLH Ciamis kini memiliki dasar kuat untuk melanjutkan investigasi penyebab pencemaran air di wilayah Imbanagara. Pemerintah daerah berharap proses ini dapat segera mengungkap sumber masalah secara jelas.

Peristiwa pencemaran tersebut sebelumnya berdampak langsung pada ratusan kolam budidaya ikan milik warga. Kematian ikan secara massal pada 17 Juli 2026 menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya karena menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Ke depan, pemerintah Kabupaten Ciamis berharap penanganan kasus ini tidak hanya berhenti pada identifikasi sumber pencemaran, tetapi juga menghasilkan langkah perbaikan yang konkret. Tujuannya agar kualitas air di kawasan Imbanagara dapat pulih dan kejadian serupa tidak kembali terulang.

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari budidaya ikan, kepastian mengenai sumber pencemaran menjadi hal penting untuk menjaga keberlanjutan usaha mereka sekaligus memulihkan kepercayaan terhadap kualitas lingkungan di wilayah tersebut.

fauzi

Komentar