SEMARANG, GALUH.INFO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang masih menyelidiki dugaan keracunan massal yang diduga berkaitan dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah.
Berdasarkan pendataan sementara, 707 warga sekolah mengalami gejala setelah mengikuti program MBG. Mereka terdiri atas 693 siswa dan 14 guru. Sejumlah peserta sempat menjalani perawatan medis di puskesmas dan rumah sakit.
Kasus ini menjadi perhatian publik setelah beredar informasi mengenai dugaan makanan yang tidak layak konsumsi. Namun, hingga saat ini penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil penyelidikan.
Dinkes: Sebagian Besar Mendapat Penanganan di Sekolah
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengatakan sebagian besar warga sekolah mendapatkan penanganan langsung di lingkungan sekolah.
“Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru,” kata Hakam, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, 689 orang menjalani penanganan di sekolah, sedangkan beberapa lainnya dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk menjalani observasi.
“9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut,” ujarnya.
Hakam menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa dan guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.
“Fokus kami saat ini memastikan seluruh siswa maupun guru yang mengalami gejala memperoleh pelayanan kesehatan sesuai kebutuhannya,” tambahnya.
Dinkes Masih Menunggu Hasil Laboratorium
Dinkes Kota Semarang belum menyimpulkan penyebab kejadian tersebut. Tim masih melakukan penyelidikan epidemiologi serta pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan spesimen dari korban.
Langkah tersebut bertujuan memastikan apakah gejala yang dialami para siswa dan guru benar-benar berkaitan dengan menu MBG atau berasal dari faktor lain.
“Secara bersamaan, tim juga melakukan penyelidikan epidemiologi serta pengambilan sampel makanan dan spesimen korban untuk diperiksa di laboratorium sebagai bagian dari penelusuran penyebab kejadian,” jelas Hakam.
Dinkes juga mengaktifkan Tim Gerak Cepat (TGC) untuk mempercepat proses investigasi di lapangan.
“Kami belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian sebelum seluruh proses pemeriksaan laboratorium selesai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil pemeriksaan yang sedang berjalan,” tegasnya.
Distribusi Makanan dari SPPG Dihentikan Sementara
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Kota Semarang berkoordinasi dengan SMKN 6 Semarang, SPPG Kota Semarang Timur (Karangturi), serta Yayasan Putra Maju Mapan Mandiri yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG.
Pemerintah juga menghentikan sementara distribusi makanan dari penyelenggara SPPG yang terkait hingga seluruh proses penyelidikan dan pemeriksaan laboratorium selesai.
“Sebagai langkah kehati-hatian, distribusi makanan dari penyelenggara SPPG terkait dihentikan sementara hingga proses penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium selesai dilakukan,” ungkap Hakam.
Pihak Sekolah Benarkan Ada Tenaga Kependidikan Terdampak
Kepala SMKN 6 Semarang, Berty Sagendra, membenarkan bahwa selain siswa, tenaga kependidikan di sekolah juga mengalami gejala.
“Saya dapat laporan terdapat tendik yang terdampak juga,” kata Berty.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah dan instansi terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Pemerintah mengimbau masyarakat tidak menarik kesimpulan sebelum proses investigasi selesai.
Catatan Redaksi: Hingga saat ini, penyebab kejadian belum dipastikan. Dugaan keterkaitan dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) masih dalam proses penyelidikan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang melalui pemeriksaan epidemiologi dan uji laboratorium.
fauzi










Komentar