CIAMIS, GALUH.INFO — Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis mulai mengkaji inovasi pembelajaran kelas rangkap atau multigrade sebagai salah satu alternatif untuk menghadapi keterbatasan tenaga pendidik dan jumlah siswa di sejumlah sekolah dasar (SD).
Upaya tersebut dilakukan melalui kunjungan studi tiru ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (3/11/2026). Sebanyak tujuh perwakilan Disdik Kabupaten Ciamis datang untuk mempelajari penerapan model pembelajaran kelas rangkap yang dikembangkan melalui pendampingan program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), Kemitraan Pemerintah Indonesia-Australia.
Rombongan dipimpin Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Kabupaten Ciamis, Sigit Ginanjar. Mereka diterima Sekretaris Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Yunita Nur Laili, bersama sejumlah kepala bidang di ruang Agus Salim.
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi kedua daerah untuk bertukar pengalaman mengenai praktik pembelajaran kelas rangkap serta pengembangan inovasi pendidikan.
Ciamis Pelajari Pengalaman Probolinggo
Sekretaris Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Yunita Nur Laili, mengatakan pihaknya menyambut baik kunjungan tersebut. Dalam kesempatan itu, Disdikdaya Probolinggo memperkenalkan sejumlah inovasi pendidikan, terutama program multigrade atau pembelajaran kelas rangkap.
“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berbagi pengalaman dan inovasi yang sudah dilakukan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo. Salah satunya terkait program multigrade atau kelas rangkap. Kami juga menyampaikan sejumlah program lain yang telah berjalan di bidang pendidikan,” katanya.
Selain pembelajaran kelas rangkap, pihaknya juga memaparkan sejumlah program bantuan pendidikan. Di antaranya beasiswa untuk siswa dan guru, program OASE, beasiswa tahfidz bagi murid, serta beasiswa bagi siswa dari keluarga kurang mampu dan berprestasi.
Menurut Yunita, rombongan Disdik Kabupaten Ciamis menunjukkan ketertarikan terhadap sejumlah program tersebut. Namun, penerapannya di daerah lain perlu mempertimbangkan kesiapan dan kesesuaian dengan kondisi masing-masing wilayah.
“Rombongan Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis cukup tertarik dengan program-program yang ada di Disdikdaya Kabupaten Probolinggo. Jika nantinya memungkinkan dan seluruh persiapannya terpenuhi, program tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk diterapkan di Kabupaten Ciamis,” jelasnya.
Regulasi dan Kesiapan Guru Jadi Perhatian
Yunita menjelaskan, penerapan pembelajaran kelas rangkap membutuhkan persiapan matang. Dua aspek penting yang harus dikaji adalah regulasi dan kesiapan sumber daya manusia (SDM), terutama tenaga pendidik.
Karena itu, hasil diskusi dan tanya jawab dalam kunjungan tersebut diharapkan menjadi bahan kajian bagi Disdik Kabupaten Ciamis sebelum menentukan langkah penerapan program.
“Dari hasil diskusi dan tanya jawab tadi, tentu ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan dikaji oleh Kabupaten Ciamis, terutama terkait regulasi dan kesiapan SDM. Hal itu penting agar program multigrade nantinya bisa diterapkan dengan baik,” terangnya.
Yunita berharap pertukaran pengalaman tersebut memberikan manfaat bagi kedua daerah. Selain menjadi referensi bagi Ciamis, kegiatan itu juga menjadi bahan evaluasi bagi Probolinggo untuk terus mengembangkan inovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
Ciamis Cari Alternatif Mengatasi Kekurangan Guru
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Kabupaten Ciamis, Sigit Ginanjar, menjelaskan bahwa pemilihan Kabupaten Probolinggo sebagai lokasi studi tiru dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat.
Menurut Sigit, Kabupaten Probolinggo direkomendasikan sebagai tempat belajar karena memiliki persoalan yang hampir sama dengan kondisi di sejumlah sekolah di Kabupaten Ciamis, yakni keterbatasan tenaga guru dan jumlah siswa.
“Kami datang ke Kabupaten Probolinggo untuk melakukan studi tiru terkait penerapan kelas rangkap. Setelah berkoordinasi dengan BBPMP Jawa Barat, kami diarahkan untuk belajar ke sini karena permasalahan yang dihadapi hampir sama, yakni kekurangan tenaga guru dan jumlah siswa di sekolah,” ujarnya.
Ia berharap informasi dan pengalaman yang diperoleh selama kunjungan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan sekolah di Kabupaten Ciamis.
“Motivasi kami datang ke sini memang untuk belajar. Mudah-mudahan informasi dan pengalaman yang kami peroleh terkait kelas rangkap dapat diterapkan di Kabupaten Ciamis sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah,” tegasnya.
Sigit juga berharap pengalaman Kabupaten Probolinggo dapat memberikan inspirasi bagi Ciamis dalam mencari solusi terhadap persoalan keterbatasan tenaga pendidik.
Melalui studi tiru tersebut, Disdik Kabupaten Ciamis memperoleh referensi mengenai penerapan pembelajaran kelas rangkap. Meski demikian, penerapan program di Ciamis masih memerlukan kajian lebih lanjut, terutama terkait regulasi, kesiapan guru, serta kebutuhan masing-masing sekolah.
uzi








Komentar