Gempa M 7,7 Guncang NTT, 47 Orang Tewas dan Lima Bandara Terdampak, Ini Jejak Gempa Dahsyat di Flores

Berita, Nasional290 Dilihat

NTT, GALUH.INFO – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari. Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah Pulau Flores.

Berdasarkan data sementara yang dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang. Korban tersebar di Kabupaten Manggarai sebanyak 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka tiga orang, Ngada satu orang, dan Ende satu orang. Data tersebut merupakan pemutakhiran pada fase awal penanganan dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi di lapangan. (Antara News Makassar)

BNPB menyebut gempa berpusat di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Guncangan tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Flores dan memicu proses evakuasi serta penanganan darurat. (BNPB)

Duka akibat gempa tidak hanya terlihat dari jumlah korban. Kerusakan rumah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, serta infrastruktur publik turut memperberat kondisi masyarakat terdampak.

Lima Bandara di NTT Ikut Terdampak

Dampak gempa juga menyentuh sektor transportasi udara. Berdasarkan informasi dalam bahan laporan, lima bandar udara mengalami dampak akibat guncangan.

Kelima bandara tersebut meliputi Bandar Udara Komodo-Labuan Bajo, Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman-Ende, Bandar Udara Umbu Mehang Kunda-Waingapu, Bandar Udara Frans Sales Lega-Ruteng, dan Bandar Udara Soa-Bajawa.

Sejumlah fasilitas bandara mengalami kerusakan dan retakan. Kerusakan antara lain terdapat pada bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, serta sejumlah fasilitas pendukung.

Meski fasilitas mengalami dampak, personel pelayanan navigasi penerbangan di lokasi terdampak dilaporkan selamat.

“Seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di lokasi yang terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, dalam keterangan resminya, Minggu (16/8/2026).

Selain fasilitas bandara, beberapa unit pelayanan navigasi juga terdampak. Laporan tersebut mencakup Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng.

Ribuan Warga Mengungsi Pascagempa

Gempa M 7,7 juga memaksa ribuan warga meninggalkan rumah. BNPB melaporkan lebih dari 5.000 warga bertahan di lokasi pengungsian setelah gempa mengguncang Flores. (BNPB)

Situasi darurat membuat pemerintah dan petugas gabungan harus bergerak cepat. Kerusakan infrastruktur dan gangguan akses di sejumlah wilayah turut menjadi tantangan dalam proses evakuasi dan pendataan korban.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan masyarakat terdampak terus meningkat. Warga membutuhkan tempat aman, makanan, air, layanan kesehatan, serta dukungan lainnya selama masa tanggap darurat.

Di tengah situasi tersebut, solidaritas masyarakat juga bermunculan. Dukungan hadir melalui penggalangan bantuan, donasi, serta doa untuk keselamatan korban dan kelancaran proses pencarian serta pemulihan.

Gempa 1992 Menjadi Catatan Kelam Flores

Bencana terbaru tersebut kembali mengingatkan masyarakat pada sejarah panjang gempa bumi di NTT.

Salah satu peristiwa paling besar terjadi pada 12 Desember 1992 ketika gempa kuat mengguncang Flores dan memicu tsunami. Peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar serta menghancurkan banyak bangunan, terutama di kawasan Maumere.

Gempa 1992 menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah kebencanaan Flores. Peristiwa itu juga menunjukkan bahwa masyarakat NTT menghadapi risiko gempa dan tsunami yang serius.

Karena itu, setiap gempa besar di wilayah tersebut tidak hanya menjadi persoalan penanganan korban. Pemerintah dan masyarakat juga perlu memperkuat mitigasi, edukasi kebencanaan, jalur evakuasi, serta kesiapsiagaan menghadapi gempa susulan.

Jejak Gempa Besar di NTT dari 1975 hingga 2026

Selain gempa terbaru, sejumlah gempa besar pernah mengguncang wilayah NTT dalam beberapa dekade terakhir. Berikut rangkaian peristiwa yang tercantum dalam bahan laporan:

2026 – Gempa M 7,7 di Nagekeo

Gempa M 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026). Pusat gempa berada di laut timur laut Nagekeo dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, dan ribuan pengungsi. (BNPB)

2024 – Gempa M 5,6 di Nagekeo

Pada 25 Januari 2024, gempa M 5,6 mengguncang wilayah Nagekeo, Flores, pada kedalaman sekitar 11 kilometer. Peristiwa tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan rumah dan fasilitas umum tanpa korban jiwa.

2021 – Gempa M 7,5 di Flores

Pada 14 Desember 2021, gempa kuat mengguncang wilayah Flores. Laporan dalam bahan awal menyebut gempa tersebut berkekuatan M 7,5 dan memicu tsunami kecil. Ribuan warga mengungsi dan sejumlah rumah mengalami kerusakan.

2016 – Gempa M 6,6 di Sumba Barat

Pada 12 Februari 2016, gempa M 6,6 mengguncang wilayah Sumba Barat. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan.

2015 – Gempa M 6,2 di Alor

Pada 4 November 2015, gempa M 6,2 mengguncang Alor dengan kedalaman sekitar 89 kilometer. Gempa tersebut berdampak pada sejumlah fasilitas publik.

2004 – Gempa M 7,5 di Alor

Pada 12 November 2004, gempa M 7,5 mengguncang kawasan Kalabahi, Alor. Peristiwa tersebut tercatat menewaskan 31 orang dan melukai sekitar 400 orang. Sekitar 500 rumah serta sejumlah bangunan mengalami kerusakan.

1992 – Gempa dan Tsunami Flores

Pada 12 Desember 1992, gempa besar mengguncang Flores dan memicu tsunami. Peristiwa tersebut menewaskan atau menyebabkan sekitar 2.500 orang meninggal dan hilang. Kerusakan sangat parah terjadi di wilayah Maumere.

1991 – Gempa M 6,2 di Alor

Pada 4 Juli 1991, gempa M 6,2 mengguncang Kalabahi, Alor, pada kedalaman sekitar 29 kilometer. Bencana tersebut menyebabkan 23 orang meninggal dunia, 181 orang terluka, sekitar 5.400 warga kehilangan tempat tinggal, dan lebih dari 1.000 bangunan mengalami kerusakan.

1989 – Gempa M 6,4 di Alor Timur

Pada 15 Juli 1989, gempa M 6,4 mengguncang Alor Timur dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Sejumlah rumah dan fasilitas umum dilaporkan mengalami kerusakan.

1975 – Gempa M 6,1 di Kupang

Pada 30 Juli 1975, gempa M 6,1 mengguncang wilayah Kupang dengan kedalaman sekitar 30 kilometer. Berdasarkan bahan laporan, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Sejarah Panjang Mengajarkan Pentingnya Mitigasi

Rangkaian gempa tersebut menunjukkan bahwa NTT memiliki sejarah aktivitas seismik yang panjang. Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif membuat masyarakat perlu terus meningkatkan kesiapsiagaan.

Gempa tidak dapat diprediksi secara pasti kapan terjadi. Namun, dampaknya dapat dikurangi melalui mitigasi yang konsisten.

Pemerintah dapat memperkuat standar bangunan tahan gempa, memperjelas jalur evakuasi, menyiapkan tempat pengungsian, serta meningkatkan edukasi kebencanaan. Masyarakat juga perlu memahami tindakan yang tepat ketika gempa terjadi.

Pengalaman dari gempa-gempa sebelumnya menjadi pelajaran penting. Setiap tragedi menyisakan duka, tetapi juga memberikan pengetahuan untuk memperbaiki sistem kesiapsiagaan.

Gempa M 7,7 di NTT kembali menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar teori. Ketika bencana datang, pengetahuan, infrastruktur, koordinasi, dan kecepatan respons dapat menentukan keselamatan masyarakat.

Catatan Data

Angka 47 korban meninggal dunia dalam artikel ini mengikuti data sementara BNPB yang menjadi dasar bahan awal pada 16 Agustus 2026. Data korban bencana dapat berubah setelah proses pendataan, verifikasi, dan validasi selesai. Pada perkembangan berikutnya, sejumlah laporan media juga mencatat angka korban yang lebih tinggi, sehingga pembaruan data resmi perlu terus dipantau. (Antara News Makassar)

fauzi

Komentar