Masyarakat Ciamis hingga kini mengenang Kanjeng Prabu melalui kompleks makamnya di Jambansari, Selagangga. Pemerintah Kabupaten Ciamis juga memasukkan makamnya dalam tradisi napak tilas untuk mengenang para pemimpin terdahulu.
Kanjeng Prabu Memimpin Galuh Selama Puluhan Tahun
Kanjeng Prabu memimpin Galuh selama sekitar 47 tahun. Masa kepemimpinannya menghasilkan sejumlah perubahan penting dalam pemerintahan dan pembangunan.
Sumber sejarah daerah mencatat bahwa Kanjeng Prabu memberikan perhatian terhadap berbagai sektor, termasuk pertanian, pendidikan, transportasi, dan pemerintahan.
Ia tidak hanya menjalankan fungsi administratif sebagai bupati. Ia juga mendorong pembangunan yang memberi pengaruh terhadap perkembangan wilayah Galuh.
Membangun Infrastruktur untuk Masyarakat
Salah satu warisan Kanjeng Prabu terlihat dalam pembangunan infrastruktur.
Sumber Ciamis mencatat bahwa pada masa kepemimpinannya, pembangunan infrastruktur pengairan dan transportasi mendapat perhatian. Dam Nagawiru menjadi salah satu contoh pembangunan yang berkaitan dengan pengairan pertanian.
Kanjeng Prabu juga menggagas pembangunan Jembatan Cirahong yang kemudian menjadi penghubung penting antara wilayah Ciamis dan sekitarnya.
Pembangunan tersebut memperlihatkan bahwa pemimpin daerah pada masa itu sudah melihat hubungan antara infrastruktur, pertanian, mobilitas masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi.
Pendidikan Mendapat Perhatian
Kanjeng Prabu juga memberikan perhatian terhadap pendidikan.
Upaya membangun pendidikan pada masa tersebut memiliki arti penting karena akses pendidikan bagi masyarakat pribumi masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Kebijakan pendidikan menjadi salah satu warisan yang membuat nama Kanjeng Prabu tetap muncul dalam sejarah pembangunan Ciamis.
Generasi masa kini dapat melihat pembangunan pendidikan sebagai bagian dari proses panjang yang kemudian berkembang menjadi sistem pendidikan modern.
Pemerintahan dan Identitas Galuh
Kanjeng Prabu memimpin pada masa ketika nama Galuh masih menjadi identitas pemerintahan.
Pemerintah Kabupaten Ciamis hingga kini masih menghubungkan sejarah daerah dengan para pemimpin Galuh terdahulu. Tradisi ziarah dan napak tilas menjadi salah satu cara pemerintah daerah mengenalkan kembali sejarah tersebut kepada masyarakat.
Pada 2026, masyarakat masih dapat menemukan jejak Kanjeng Prabu melalui makam, bangunan, serta berbagai cerita sejarah yang berkembang di Ciamis.
Makam Jambansari Menjadi Pengingat Sejarah
Kompleks Keraton Selagangga atau Jambansari menjadi salah satu tempat penting dalam mengenang Kanjeng Prabu.
Pada 2025, masyarakat menggelar haul ke-139 Raden Adipati Aria Kusumahdiningrat di Keraton Selagangga. Kegiatan tersebut menghadirkan keluarga keturunan, pemerintah daerah, aparat, dan budayawan.
Kegiatan seperti itu memperlihatkan bahwa sejarah Galuh tidak hanya tersimpan dalam buku. Masyarakat juga merawatnya melalui tradisi dan situs sejarah.
Kanjeng Prabu akhirnya meninggalkan warisan penting bagi Ciamis. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa pembangunan daerah membutuhkan perhatian terhadap pendidikan, pertanian, infrastruktur, dan kehidupan masyarakat.
fauzi








Komentar