Di Balik Protes Mahasiswa soal Krisis BBM di Sulsel, Ada Keresahan Warga yang Dituduh Panic Buying

Berita, Daerah25 Dilihat

MAKASSAR, GALUH.INFO — Aksi demonstrasi Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) di depan Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat, 11 September 2026, menyoroti keresahan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji 3 kilogram.

Massa berkumpul di kawasan Jalan Garuda, Kelurahan Kunjung Mae, Kecamatan Mariso. Mereka mempertanyakan kondisi distribusi Pertalite, Pertamax, serta LPG 3 kg yang menurut massa masih sulit masyarakat dapatkan di sejumlah titik.

Aksi tersebut sempat memanas setelah massa mengaku tidak kunjung mendapat respons dari pihak Pertamina.

Kericuhan Sempat Pecah

Pada awal aksi, mahasiswa menyampaikan orasi secara bergantian di depan pintu masuk Kantor PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.

Aparat TNI dan kepolisian turut mengawal jalannya demonstrasi.

Namun, setelah sekitar satu jam berorasi, sejumlah mahasiswa mulai emosi karena belum ada pejabat atau perwakilan Pertamina Sulawesi yang menemui mereka.

Beberapa mahasiswa kemudian memanjat pagar kantor. Situasi pun sempat diwarnai kericuhan.

Salah seorang mahasiswa bahkan menyampaikan protes keras kepada pihak Pertamina.

“Kedatangan kami di sini sebagai bentuk keresahan masyarakat. Kami sampaikan jika kalian takut keluar temui kami, saya yang masuk, Pak,” teriak salah seorang mahasiswa.

Mahasiswa juga mengkritik manajemen Pertamina yang mereka nilai belum mampu memberikan pelayanan dan solusi atas keresahan masyarakat terkait ketersediaan BBM.

Antre dari Sore hingga Subuh

Perwakilan GAM, Fajar Wasis, mengatakan massa datang untuk mempertanyakan penyebab sulitnya masyarakat mendapatkan BBM dan LPG 3 kg.

Menurut Fajar, persoalan tersebut berkaitan dengan distribusi BBM dan gas yang menjadi tanggung jawab Pertamina.

“Kami melihat bahwa persoalan distribusi BBM, baik itu Pertalite, Pertamax, dan gas 3 kg,” kata Fajar dalam orasinya.

“Itu merupakan tanggung jawab dari Pertamina untuk menyediakan secara cukup. Namun, hari ini masyarakat masih sulit mendapatkannya,” lanjutnya.

Orator lainnya menggambarkan panjangnya antrean masyarakat di sejumlah lokasi.

“Kita antre dari sore sampai subuh, banyak masyarakat yang mengeluh terkait kelangkaan BBM yang terjadi di Sulsel,” ucapnya.

Warga Tak Terima Disebut ‘Panic Buying’

GAM juga menyoroti pernyataan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang menyebut antrean di sejumlah SPBU diduga terjadi akibat panic buying.

Fajar menilai narasi tersebut berpotensi menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus disalahkan atas kondisi kelangkaan BBM dan LPG.

“Persoalan kelangkaan BBM dan gas LPG 3 kilo itu kemudian tidak mampu dibenarkan dengan alasan bahwa masyarakat yang kemudian salah karena dia yang panik sehingga melakukan pembelian secara tidak wajar,” tegas Fajar.

Menurutnya, masyarakat justru merasakan langsung dampak dari sulitnya memperoleh BBM dan LPG di lapangan.

Desak GM Pertamina Mundur

Fajar juga menilai Pertamina perlu memberikan penjelasan dan solusi konkret kepada masyarakat, bukan sekadar menyebut faktor kepanikan sebagai penyebab antrean.

“Saya kira kendalanya jelas bahwa Pertamina tidak mampu untuk mendistribusikan secara optimal terkait persoalan ini,” ujarnya.

“Kemudian dia juga tidak mampu memberikan solusi dan hanya menyalahkan masyarakat itu sendiri,” tambahnya.

Atas kondisi tersebut, GAM mendesak pejabat GM PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang mereka nilai bertanggung jawab atas persoalan tersebut untuk mengundurkan diri.

“Dan ketika PT Pertamina tidak mampu memberikan solusi dalam waktu dekat ini, maka kami meminta juga untuk segera pencopotan GM PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi,” tandas Fajar.

Tuntutan tersebut menjadi bagian dari kritik mahasiswa terhadap pengelolaan distribusi BBM dan LPG di Sulawesi Selatan. Sementara itu, tudingan dan tuntutan yang disampaikan massa dalam aksi tersebut perlu ditempatkan sebagai aspirasi demonstran dan memerlukan tanggapan dari pihak Pertamina terkait

fauzi

Komentar