Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji Temui TPK di Ciamis, Stunting Jadi Perhatian

Berita, Daerah82 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menghadiri kegiatan temu Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kabupaten Ciamis, Selasa (29/9/2026).

Kegiatan berlangsung di Islamic Center Ciamis dan diikuti para kader Tim Pendamping Keluarga dari Kabupaten Ciamis.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat peran TPK dalam mendampingi keluarga, terutama dalam upaya percepatan penanganan stunting.

TPK Punya Peran Penting Dampingi Keluarga

Dalam kegiatan tersebut, perhatian utama tertuju pada peran TPK dalam mendampingi keluarga di tingkat lapangan.

TPK menjadi salah satu unsur yang berhubungan langsung dengan keluarga. Karena itu, kader perlu memahami kondisi keluarga dan sasaran pendampingan di wilayah masing-masing.

Pendampingan keluarga juga membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Para kader menghadapi masyarakat dengan kondisi yang beragam serta harus menjalankan tugas secara berkelanjutan.

Pesan tersebut menjadi penting karena upaya penanganan stunting tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan. Kondisi keluarga, pola pengasuhan, pemenuhan kebutuhan anak, serta pendampingan sejak masa kehamilan juga menjadi bagian dari perhatian.

Bupati Herdiat Soroti Data Stunting

Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya turut menyampaikan kondisi penanganan stunting di Kabupaten Ciamis.

Dalam paparannya, Herdiat menyebut terdapat perbedaan angka antara hasil survei dengan data yang diterima dari posyandu.

Ia menyebut angka stunting berdasarkan hasil survei berada di sekitar 20,23 persen. Sementara itu, data yang diterima dari posyandu menunjukkan angka yang berbeda.

Perbedaan tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Herdiat mengatakan pihaknya akan berupaya menyelaraskan data dari berbagai sumber agar penanganan stunting dapat berjalan lebih tepat.

Pemerintah juga memiliki kecamatan binaan yang secara khusus mendapat perhatian untuk mempercepat penanganan stunting.

Pendampingan Keluarga Membutuhkan Komitmen

Herdiat mengapresiasi para kader TPK yang tetap menjalankan tugas di tengah berbagai keterbatasan.

Menurutnya, kader harus bekerja dari pagi hingga sore. Mereka juga menghadapi kondisi lapangan yang tidak selalu mudah, termasuk ketika harus turun saat hujan.

Persoalan insentif juga menjadi salah satu tantangan bagi kader. Dalam paparannya, Herdiat menyebut pembayaran insentif dapat berlangsung dengan jeda yang berbeda.

Meski demikian, ia menilai semangat kerja para kader tetap menjadi kekuatan dalam menjalankan pendampingan keluarga.

Herdiat menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak hanya mengandalkan dukungan materi. Semangat kerja dan gotong royong masyarakat menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan.

Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan Jadi Perhatian

Dalam pembahasan stunting, masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi bagian penting.

Pendampingan keluarga perlu berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak memasuki periode awal kehidupannya.

Karena itu, TPK memiliki peran untuk membantu keluarga memahami pentingnya pemenuhan kebutuhan anak serta melakukan pendampingan sesuai kondisi keluarga.

Namun, sejumlah bagian dalam materi yang disampaikan terkait dampak stunting terhadap kemampuan kognitif anak perlu dibaca secara hati-hati dan tidak disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa seluruh anak stunting pasti memiliki tingkat kecerdasan tertentu.

Pendekatan penanganan stunting tetap membutuhkan dukungan layanan kesehatan, gizi, pengasuhan, sanitasi, serta intervensi lain sesuai kondisi masing-masing keluarga.

Kunjungan Menteri Perkuat Koordinasi

Kehadiran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN dalam kegiatan tersebut memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan kader di tingkat masyarakat.

Selain unsur TPK, kegiatan juga dihadiri sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran pemerintah daerah, Kementerian Agama, DPRD, serta unsur terkait lainnya.

Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi kader untuk memperkuat pemahaman mengenai pendampingan keluarga.

Bagi Kabupaten Ciamis, penguatan peran TPK menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan stunting sekaligus memastikan keluarga sasaran memperoleh pendampingan secara berkelanjutan.

Ciamis Andalkan Semangat Gotong Royong

Herdiat mengatakan pemerintah daerah memiliki keterbatasan jika hanya mengandalkan kemampuan anggaran.

Karena itu, ia menilai semangat masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjalankan berbagai program pembangunan.

“Kebanggaan kami hanya bekerja dari sisi materi kami angkat tangan, nggak punya apa-apa, tapi kami mempunyai semangat kerja,” ujar Herdiat.

Semangat tersebut menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk terus menggerakkan masyarakat dalam menangani berbagai persoalan, termasuk stunting.

Melalui kolaborasi pemerintah, kader TPK, tenaga kesehatan, PKK, dan masyarakat, pemerintah berharap pendampingan keluarga dapat semakin efektif.

Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat pencegahan dan penanganan stunting di Kabupaten Ciamis secara berkelanjutan.

uzi

Komentar