Nyiar Lumar 2026 Kembali Menyala Setelah Empat Tahun Vakum, Ribuan Warga Padati Kawali

Berita, Daerah218 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO — Ribuan warga, seniman, pelajar, dan pengunjung dari berbagai daerah memadati Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Sabtu (5/9/2026). Mereka datang menyambut kembalinya Nyiar Lumar 2026, perhelatan seni dan budaya yang sempat vakum selama empat tahun.

Kembalinya Nyiar Lumar mendapat sambutan meriah. Masyarakat tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga mengikuti rangkaian tradisi yang mengangkat sejarah dan kebudayaan Kerajaan Galuh.

Kegiatan berlangsung sejak sore di halaman Kantor Kecamatan Kawali. Rangkaian acara kemudian berlanjut dengan kirab menuju Situs Astana Gede Kawali hingga menjelang tengah malam.

Nyiar Lumar, Mencari Kembali Cahaya Warisan Leluhur

Nyiar Lumar menjadi ruang perjumpaan antargenerasi untuk mengenalkan sejarah dan kekayaan budaya Galuh kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Istilah “Nyiar” berarti mencari, sedangkan “Lumar” merujuk pada jamur yang bercahaya. Makna tersebut menjadi simbol pencarian kembali cahaya warisan leluhur yang sempat redup.

Karena itu, Nyiar Lumar tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni. Perhelatan tersebut juga menjadi sarana untuk merawat ingatan sejarah, menjaga identitas budaya, serta memperkuat kebersamaan masyarakat melalui kesenian tradisional.

Ketua Pelaksana Nyiar Lumar 2026, Ocay Rosyadi, menyampaikan rasa syukur atas dukungan berbagai pihak yang ikut menyukseskan kegiatan tersebut.

“Nyiar Lumar bukan sekadar pentas seni, tetapi jembatan antargenerasi untuk mengenalkan kekayaan sejarah Galuh di masa silam. Ini persembahan dari seniman Kawali dan sekitarnya,” ujar Ocay Rosyadi.

Atraksi Debus hingga Musik Pelajar

Rangkaian acara di halaman Kantor Kecamatan Kawali menghadirkan beragam penampilan seni.

Salah satu atraksi yang menarik perhatian warga yakni pertunjukan Debus yang ditampilkan Pak Peno bersama rombongan budayawan Kabupaten Ciamis.

Pertunjukan tersebut menampilkan kekuatan fisik sekaligus nilai spiritual yang melekat dalam kearifan lokal masyarakat.

Selain itu, siswa SMKN 1 Kawali turut ambil bagian melalui penampilan musik. Keterlibatan pelajar memberikan warna tersendiri karena menunjukkan adanya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.

Bupati Ciamis Pimpin Kirab Obor

Memasuki malam hari, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyalakan obor secara simbolis. Setelah itu, rombongan bersama ribuan peserta mengikuti kirab menuju Situs Astana Gede Kawali.

Peserta membawa obor sepanjang perjalanan. Berbagai kesenian tradisional turut mengiringi kirab sehingga menciptakan suasana khidmat dan penuh makna.

Sesampainya di Situs Astana Gede, rangkaian prosesi budaya berlangsung sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Puncak acara kemudian diisi dengan pertunjukan teatrikal kolosal Perang Bubat. Kisah sejarah Nusantara tersebut berhasil menarik perhatian ribuan penonton hingga acara berakhir menjelang tengah malam.

Dihadiri Pemerintah dan Tokoh Budaya

Kembalinya Nyiar Lumar juga mendapat dukungan dari berbagai unsur pemerintah, lembaga kebudayaan, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan seniman.

Sejumlah pihak yang hadir antara lain Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Kepala Disbudpora Kabupaten Ciamis, Kasatpol PP, para kepala OPD, unsur Forkopimda, Camat Kawali dan Forkopimcam.

Hadir pula Direktur Perumdam Tirta Galuh, tokoh masyarakat dan tokoh adat Kawali, Linda Praja selaku pemilik Yayasan Putri Praja Mandiri, para tokoh budaya, seniman dari berbagai daerah, siswa SMKN 1 Kawali, serta ribuan masyarakat.

Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama.

Empat Tahun Vakum, Kini Kembali Menyala

Bagi masyarakat Kawali, kembalinya Nyiar Lumar memiliki makna lebih dari sekadar penyelenggaraan festival seni.

Setelah empat tahun tidak digelar, perhelatan ini kembali menjadi ruang bagi masyarakat untuk mempertemukan sejarah, kesenian, tradisi, dan generasi muda.

Antusiasme ribuan warga menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.

Nyiar Lumar 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah tidak cukup hanya disimpan dalam cerita. Sejarah perlu dikenalkan, dirawat, dan diwariskan melalui berbagai cara agar tetap hidup di tengah generasi berikutnya.

Cahaya yang menjadi simbol Nyiar Lumar kini kembali menyala di Kawali. Setelah sempat redup selama empat tahun, tradisi tersebut kembali hadir melalui semangat para seniman, masyarakat, pemerintah, dan generasi muda yang ingin menjaga warisan budaya Galuh.

fauzi/aep

Komentar