Ciamis | Galuh Info – Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Kabupaten Ciamis terus berupaya menjaga stabilitas produksi para perajin tahu dan tempe. Setiap harinya, koperasi ini menghabiskan sekitar satu ton kedelai impor guna memenuhi kebutuhan para anggotanya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga keberlangsungan usaha mikro di sektor pangan, khususnya bagi 130 perajin tahu dan tempe yang tergabung dalam koperasi. Ketersediaan bahan baku menjadi faktor utama dalam memastikan produksi tetap berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Aktivitas penimbangan kedelai impor di gudang Primkopti Ciamis terlihat sibuk pada Senin (13/4/2026). Proses ini mencerminkan komitmen koperasi dalam memenuhi kebutuhan anggotanya secara konsisten dan tepat waktu.
Berlokasi di Kabupaten Ciamis, Primkopti menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Peran koperasi tidak hanya sebatas penyedia bahan baku, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat kecil.
Untuk menjaga stabilitas harga, koperasi menerapkan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp11.500 per kilogram. Kebijakan tersebut mengikuti ketentuan pemerintah guna melindungi perajin dari fluktuasi harga kedelai di pasar global.
Penerapan HAP dinilai mampu memberikan kepastian usaha bagi para pelaku industri rumahan. Dengan harga yang stabil, para perajin dapat mengatur biaya produksi secara lebih efektif dan efisien.
Ketergantungan terhadap kedelai impor masih menjadi tantangan bagi industri tahu dan tempe di Indonesia. Namun demikian, keberadaan Primkopti membantu meminimalkan dampak ketidakpastian pasokan bahan baku.
Selain itu, koperasi berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan pelaku usaha kecil dalam menjaga keseimbangan distribusi serta stabilitas harga. Hal ini menjadikan Primkopti sebagai institusi ekonomi rakyat yang strategis.
Kegiatan tersebut juga terdokumentasi oleh ANTARA FOTO melalui jepretan fotografer Adeng Bustomi. Dokumentasi ini memperlihatkan dinamika sektor industri pangan berbasis kerakyatan di daerah.
Para perajin berharap pasokan kedelai tetap terjaga agar produksi tahu dan tempe tidak terganggu. Kedua produk tersebut merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang memiliki nilai gizi tinggi serta harga terjangkau.
Di tengah tantangan global, peran koperasi menjadi semakin penting dalam memperkuat ekonomi lokal. Dengan manajemen yang baik, Primkopti diharapkan mampu terus mendukung kesejahteraan anggotanya.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Langkah ini menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Keberadaan Primkopti Ciamis pun menjadi contoh nyata bagaimana koperasi mampu menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Stabilitas pasokan dan harga menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri tahu dan tempe.
Fauzi GI












