11 Dapur SPPG Adu Kreativitas Menu MBG di Ciamis, Chef dan Ahli Gizi Diuji dalam 60 Menit

Berita, Kesehatan118 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO – Sebanyak 11 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengikuti Cooking Competition Batch 2 di GOR Desa Panyingkiran 1, Kabupaten Ciamis, Sabtu (29/8/2026).

Kompetisi tersebut tidak hanya mempertandingkan kemampuan memasak. Kegiatan ini mempertemukan chef dan ahli gizi untuk menguji kreativitas, ketepatan pengolahan makanan, kecepatan kerja, sekaligus memperkuat profesionalisme dapur SPPG dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Cooking Competition Batch 2 mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis, Satgas MBG Ciamis, Korwil BGN Ciamis, Indonesian Chef Association (ICA), Persagi, serta RT Group.

Chef dan Ahli Gizi Didorong Makin Kompak

Ketua BPC Indonesian Chef Association (ICA), Chef Rocky, mengatakan kompetisi tersebut memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar menentukan pemenang.

Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap program MBG sekaligus memperkuat kerja sama antara chef dan ahli gizi di dapur SPPG.

“Yang pertama, fungsinya adalah mengembangkan kepercayaan publik terhadap MBG. Kedua, memperkuat chemistry antara ahli gizi dan chef yang ada di lapangan. Di sini kita tunjukkan bahwa mereka bisa berkolaborasi,” tuturnya.

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena menu MBG harus memenuhi kebutuhan gizi sekaligus tetap menarik dari sisi rasa dan tampilan.

Dengan kompetisi itu, para peserta dapat menguji kemampuan masing-masing sekaligus belajar dari peserta lainnya.

Menu Lengkap Wajib Selesai dalam 60 Menit

Dalam kompetisi, peserta mendapat tantangan untuk menyajikan menu lengkap yang terdiri atas karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, dan buah.

Seluruh hidangan harus selesai dalam waktu 60 menit.

Panitia menilai sejumlah aspek, mulai dari kreativitas dan daya tarik menu, kesesuaian kandungan gizi, kecepatan, hingga ketelitian selama proses memasak.

Peserta juga menghadapi tantangan mystery box, sehingga bahan utama baru diketahui ketika kompetisi berlangsung.

Meski mendapat ruang untuk berkreasi, peserta tetap harus memperhitungkan aspek efisiensi. Menu yang mereka buat harus realistis untuk diterapkan dalam operasional dapur SPPG.

Kreatif, tetapi Harus Sesuai Anggaran

Chef Rocky menegaskan bahwa kreativitas dalam membuat menu tidak boleh mengabaikan batas anggaran.

“Menu harus kreatif dan menarik, tetapi ketika diterapkan di lapangan harus tetap realistis. Tidak boleh menggunakan hiasan yang tidak sesuai dengan anggaran. Yang terpenting tetap masuk dalam budget Rp10.000 per porsi,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan tersebut menggambarkan kondisi nyata yang harus dihadapi dapur SPPG. Para chef tidak hanya dituntut mampu menghasilkan makanan yang menarik, tetapi juga harus mampu mengelola bahan secara efisien.

Namun, efisiensi tidak boleh mengurangi kualitas gizi.

“Kita paham bahwa ini program makan bergizi gratis, otomatis gizinya yang paling penting. Kandungan gizi harus sesuai,” tegas Chef Rocky.

Chef SPPG Winduraja 1: Setiap Hari Dikejar Waktu

Salah satu peserta, Chef Arifin dari Dapur SPPG Winduraja 1, Kecamatan Kawali, menyambut positif kompetisi tersebut.

Ia menilai kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi para chef dan pengelola SPPG untuk meningkatkan kualitas makanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Indonesian Chef Association, BGN dan Badan Gizi Nasional karena melalui kegiatan ini kami bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap MBG dan meningkatkan kualitas masakan di dapur-dapur SPPG,” ujarnya.

Bagi Arifin, bekerja dalam tekanan waktu bukan sesuatu yang asing. Dapur SPPG yang dikelolanya setiap hari harus memproduksi ribuan porsi makanan.

“Kami sudah biasa dengan cooking time. Setiap hari selalu dikejar waktu. Di dapur saya sendiri sekitar 3.200 porsi per hari, mulai dari proses kecil, proses besar, B3, balita dan ibu menyusui,” katanya.

Dari wilayah Ciamis Utara, terdapat dua dapur SPPG yang mengikuti kompetisi, yakni SPPG Winduraja 1 dan salah satu SPPG dari Lumbung.

Bukan Sekadar Mengejar Juara

Arifin mengatakan peserta tidak hanya mengejar kemenangan dalam kompetisi. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama perlombaan justru menjadi bekal untuk diterapkan setelah kembali ke dapur masing-masing.

“Setelah kompetisi ini kami kembali ke dapur dan mempraktikkan pengalaman yang didapat di sini. Apa yang saya lihat dari teman-teman dapur lain akan saya kombinasikan dengan beberapa menu yang nantinya diterapkan di dapur kami,” tuturnya.

Dengan demikian, kompetisi menjadi ruang berbagi pengalaman antardapur SPPG. Peserta dapat melihat teknik, kreativitas, dan pengelolaan menu yang diterapkan oleh tim lainnya.

Diikuti 11 Dapur SPPG

Chef Rocky menjelaskan, Cooking Competition Batch 2 di Ciamis diikuti 11 peserta. Mayoritas peserta berasal dari Kabupaten Ciamis, sedangkan satu peserta berasal dari Kota Banjar.

Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari Cooking Competition Batch 1 yang sebelumnya berlangsung di Tasikmalaya pada 5 Juli 2026.

“Jadi ini batch kedua. Batch pertama kita selenggarakan di Tasik pada 5 Juli 2026, dan batch kedua tanggal 29 Agustus 2026 di Ciamis,” katanya.

Chef Rocky berharap kegiatan serupa dapat berkembang dan digelar di berbagai daerah.

“Harapannya event seperti ini bisa dilakukan juga di kota-kota lain, seperti Pangandaran, Bandung, Cianjur dan daerah lainnya. Semoga bisa membuka mata masyarakat bahwa program ini bagus, yang paling penting adalah bagaimana program ini dikelola oleh tenaga profesional dan ahli gizi yang profesional,” katanya.

Cooking Competition Jadi Ajang Bangun Kepercayaan Publik

Perwakilan Mitra SPPG Panyingkiran 01, Robi Tamzil, mengatakan pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kompetisi tersebut.

Menurut Robi, kegiatan itu menjadi kesempatan untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa tenaga yang bekerja di dapur SPPG memiliki kompetensi dan profesionalisme.

“Ini salah satu bentuk untuk memperlihatkan dan menumbuhkembangkan kepercayaan publik, masyarakat dan penerima manfaat bahwa setiap orang yang bekerja di dapur SPPG adalah orang-orang profesional dan sudah bersertifikasi,” ujarnya.

Robi juga menegaskan bahwa dukungan dari pihaknya berasal dari mitra secara mandiri dan tidak menggunakan anggaran negara.

“Selaku mitra kami sangat mendukung, baik secara moral maupun materiil. Ini murni dari pribadi mitra dan tidak menggunakan anggaran negara,” tegasnya.

Ia berharap kompetisi tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memiliki cakupan peserta yang semakin luas.

“Harapannya kegiatan ini tidak hanya sekali atau dilakukan di sini saja, tetapi bisa berjenjang dan diikuti seluruh dapur SPPG yang ada di Kabupaten Ciamis, khususnya dan umumnya seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Cooking Competition Batch 2 di Ciamis akhirnya bukan sekadar arena adu kemampuan memasak. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi chef dan ahli gizi untuk memperkuat kolaborasi, mengembangkan kreativitas menu, menjaga ketepatan gizi, serta memastikan makanan tetap realistis dengan anggaran yang tersedia.

UZI GI

Komentar