Awal Mula Jembatan Cirahong, Berawal dari Keinginan Jalur Kereta Api Melintasi Ciamis

Berita, Daerah96 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO – Jembatan Cirahong kini dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah yang menghubungkan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya. Namun, jauh sebelum berdiri kokoh seperti sekarang, keberadaan jembatan ini bermula dari perubahan rencana pembangunan jalur kereta api pada masa Hindia Belanda.

Pada akhir abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan kereta api jalur selatan Pulau Jawa. Dalam rencana awal, jalur dari Tasikmalaya menuju Banjar disebut tidak melalui wilayah Ciamis.

Jalur tersebut direncanakan mengarah melalui wilayah lain. Namun, berdasarkan catatan sejarah yang berkembang, R.A.A. Kusumadiningrat atau Kangjeng Prebu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Bupati Galuh pada periode 1839–1886, memiliki peran dalam memperjuangkan agar jalur kereta api dapat melintasi Ciamis.

Ciamis Memiliki Potensi Hasil Bumi

Pada masa itu, wilayah Galuh atau Ciamis memiliki potensi hasil bumi dan kegiatan ekonomi yang membutuhkan sarana transportasi. Keberadaan jalur kereta api dinilai penting untuk mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi berbagai hasil dari wilayah Ciamis.

Pemerintah kolonial akhirnya mengubah rencana jalur tersebut. Keputusan itu kemudian membawa konsekuensi besar karena pembangunan rel menuju Ciamis harus melintasi Sungai Citanduy.

Untuk menghubungkan dua sisi sungai, pembangunan Jembatan Cirahong pun menjadi bagian penting dalam proyek jalur kereta api tersebut.

Jembatan ini mulai dibangun pada 1893 oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Jembatan tersebut membentang di atas Sungai Citanduy yang menjadi batas wilayah antara Ciamis dan Tasikmalaya.

Menjadi Penanda Perubahan Transportasi

Kehadiran Jembatan Cirahong membawa perubahan besar terhadap perkembangan transportasi di wilayah Ciamis. Jalur kereta api yang sebelumnya tidak direncanakan melintasi Ciamis akhirnya dapat terwujud.

Dari sinilah Jembatan Cirahong tidak hanya berfungsi sebagai bangunan penghubung. Jembatan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah masuknya sistem transportasi modern ke wilayah Galuh.

Lebih dari satu abad kemudian, bangunan baja itu masih berdiri. Kereta api masih melintas di atasnya, sementara bagian bawah jembatan tetap menjadi penghubung bagi masyarakat dengan aturan penggunaan yang telah berubah mengikuti kondisi dan usia konstruksi.

uzi GI

Komentar