Sherina Munaf Ikut Padamkan Karhutla di Kalteng, Ungkap Asap Tebal hingga Masuk Pesawat

Berita, Nasional302 Dilihat

PALANGKA RAYA, GALUH.INFO — Artis Sherina Munaf membagikan pengalaman saat turun langsung membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Ia ikut membantu tim lapangan memadamkan bara api di kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.

Pengalaman tersebut Sherina bagikan melalui media sosial dalam video kolaborasi bersama @pawerfulvoices yang diunggah pada Rabu (2/9/2026).

Sebelum turun ke lokasi, Sherina merasakan langsung dampak kabut asap sejak berada di dalam pesawat dari Jakarta menuju Kalimantan Tengah.

Jadwal penerbangannya sempat mengalami keterlambatan karena jarak pandang menurun akibat asap tebal. Kondisi tersebut bahkan membuat proses pendaratan membutuhkan perhatian khusus.

“Ini ada delay karena ada kesulitan visibilitas, jadi asap tebal sekali. Dikhawatirkan nanti ada kesulitan buat landing,” ujar Sherina.

Asap Tebal Selimuti Kalimantan Tengah

Sherina mengatakan kondisi di luar pesawat mulai terlihat keruh ketika pesawat mendekati lokasi pendaratan.

Menurutnya, kabut yang terlihat bukan awan, melainkan asap karhutla. Bahkan, bau asap juga tercium hingga masuk ke dalam pesawat.

“Ketika mau landing, mulai tuh terlihat keruh sampai akhirnya enggak kelihatan apa-apa dan itu bukan awan, itu asap,” ungkap Sherina.

Ia kemudian menggunakan masker setelah merasa terganggu oleh asap.

“Bau asapnya itu sampai masuk ke dalam pesawat. Aku langsung otomatis pakai masker karena lama-lama gatal,” lanjutnya.

Menurut Sherina, kondisi Kalimantan Tengah dari udara baru terlihat semakin jelas ketika pesawat hendak mendarat.

Api Kecil Tetap Menghasilkan Asap Tebal

Sherina juga menceritakan pengalamannya melihat titik api di kawasan Jalan Lingkar Luar.

Meski api yang terlihat relatif kecil, kondisi tersebut tetap menghasilkan asap yang cukup tebal. Ia mengingatkan potensi api kembali membesar apabila kondisi angin mendukung.

“Di Jalan Lingkar Luar itu ada sumber api juga. Sepertinya udah dipadamin, cuma kita bisa melihat bekasnya tuh hitam dan ada beberapa api-api kecil yang muncul. Semoga enggak, tapi kalau angin kencang, bisa jadi api besar,” jelasnya.

Sherina juga menyoroti dampak asap terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan karhutla.

“Api yang sekecil itu aja, impact asapnya udah parah banget dan enggak kebayang warga di sana terdampaknya setiap hari,” sambungnya.

Sherina Bantu Pemadaman di Lapangan

Sherina kemudian turun langsung membantu tim melakukan pemadaman di kawasan Konservasi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.

Dalam unggahannya, ia menyebut tim BKSDA Kalimantan Tengah telah melakukan pemadaman selama delapan hari.

Namun, api sempat kembali menyala setelah sebelumnya padam selama dua hari. Bara yang muncul kembali membuat tim harus melakukan pemadaman lanjutan.

“Tim BKSDA Kalteng sudah melakukan pemadaman selama 8 hari ini. Sempat padam 2 hari, tapi hari ini bara mulai menyala lagi,” tulis Sherina.

Ia juga ikut membantu tim dengan menggotong selang air untuk memadamkan bara yang kembali muncul.

Menurut Sherina, asap tebal dan jarak pandang rendah menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Kondisi tersebut membuat pekerjaan para petugas di lapangan semakin berat.

“Sejam usaha madamin bara-bara yang muncul cukup menguras energi. Asap kencang sekali, visibilitas rendah. Luar biasa para pejuang lapangan yang berjam-jam sampai menginap demi cegah api menjalar,” imbuhnya.

Hotspot Karhutla Meningkat

Sementara itu, berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan dengan cut-off 1 September 2026, sejumlah wilayah mencatat peningkatan hotspot.

Kalimantan Barat tercatat meningkat dari 273 menjadi 859 titik. Kalimantan Tengah naik dari 253 menjadi 623 titik.

Selanjutnya, Sumatera Selatan meningkat dari 20 menjadi 89 titik, sedangkan Kalimantan Selatan naik dari 22 menjadi 73 titik.

Riau tercatat tetap berada pada angka 0 titik. Sementara itu, Jambi yang sebelumnya 0 meningkat menjadi 4 titik hotspot.

Pengalaman Sherina Munaf di lapangan memperlihatkan tantangan pemadaman karhutla, mulai dari asap tebal, jarak pandang rendah hingga bara yang kembali menyala setelah api sempat padam.

Ia juga memberikan apresiasi kepada para petugas yang terus bekerja di lapangan untuk mencegah api kembali meluas.

UZI GI

Komentar