Siapa Sastrawinata? Bupati yang Mengubah Nama Galuh Menjadi Ciamis pada 1916

Berita, Nasional347 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO – Nama Raden Tumenggung Sastrawinata tercatat dalam sejarah Kabupaten Ciamis sebagai bupati yang mengubah nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis pada 1916. Ia memimpin Kabupaten Galuh setelah Pemerintah Hindia Belanda tidak lagi mengangkat keturunan bupati sebelumnya.

Keputusan tersebut menjadi salah satu titik balik dalam sejarah administratif Ciamis.

Sebelum keputusan itu berlaku, wilayah kabupaten masih menggunakan nama Galuh. Setelah perubahan, nama Ciamis menjadi nama resmi kabupaten yang bertahan hingga sekarang.

Sastrawinata Menggantikan Kusumasubrata

Raden Tumenggung Sastrawinata mulai memimpin setelah Raden Adipati Aria Kusumasubrata mengakhiri masa jabatannya pada 1914.

DetikJabar mencatat bahwa Pemerintah Hindia Belanda tidak lagi menunjuk keturunan Kusumasubrata sebagai bupati. Pemerintah kolonial kemudian mengangkat Sastrawinata sebagai Bupati Galuh.

Sastrawinata bukan bagian dari garis keturunan bupati Galuh sebelumnya.

Perubahan kepemimpinan tersebut menandai berakhirnya pola pengangkatan bupati dari garis keluarga tertentu yang berlangsung dalam sejarah pemerintahan Galuh.

Dua Tahun Kemudian Nama Galuh Berubah

Sastrawinata memimpin Kabupaten Galuh mulai 1914.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1916, ia mengubah nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis dengan persetujuan Pemerintah Hindia Belanda.

Badan Penghubung Jawa Barat menyebut perubahan tersebut berlangsung pada 1 Januari 1916.

Perubahan itu menempatkan nama Ciamis sebagai identitas administratif baru bagi wilayah tersebut.

Mengapa Nama Galuh Diganti?

Pertanyaan mengenai alasan Sastrawinata mengganti nama Galuh menjadi Ciamis masih menarik perhatian para peneliti sejarah.

Galuh Virtual menyatakan bahwa alasan perubahan nama tersebut belum terungkap secara pasti.

Sementara itu, sejumlah tulisan sejarah lokal dan kajian mengenai Sastrawinata menawarkan interpretasi mengenai faktor politik dan hubungan kekuasaan pada masa kolonial.

Karena itu, pemberitaan mengenai alasan perubahan nama harus menggunakan istilah seperti “diduga”, “menurut kajian”, atau “interpretasi sejarah” apabila sumbernya belum memberikan bukti yang kuat.

Fakta yang lebih pasti adalah Sastrawinata memimpin Galuh sejak 1914 dan mengganti nama kabupaten menjadi Ciamis pada 1916 dengan persetujuan pemerintah kolonial.

Nama Ciamis Mengikuti Nama Ibu Kota

Salah satu penjelasan yang paling sering muncul dalam sumber sejarah menyebutkan bahwa perubahan nama berkaitan dengan posisi Ciamis sebagai ibu kota Kabupaten Galuh.

DetikJabar menjelaskan bahwa perubahan nama tersebut menyesuaikan nama daerah Ciamis sebagai ibu kota Kabupaten Galuh.

Hal itu membuat nama kabupaten dan pusat pemerintahan memiliki identitas yang sama.

Perubahan tersebut kemudian bertahan melewati berbagai periode pemerintahan.

Sastrawinata Menjadi Tokoh Penting dalam Sejarah Ciamis

Terlepas dari perdebatan mengenai alasan politik di balik perubahan nama, posisi Sastrawinata dalam sejarah Ciamis sangat penting.

Ia menjadi bupati yang memimpin pada masa transisi dari identitas Kabupaten Galuh menuju Kabupaten Ciamis.

Perubahan tersebut terjadi dalam konteks pemerintahan Hindia Belanda. Karena itu, masyarakat perlu memahami peristiwa tersebut secara historis dan tidak memisahkannya dari kondisi politik pada awal abad ke-20.

Warisan Sejarah yang Masih Diperdebatkan

Lebih dari satu abad setelah perubahan nama, identitas Galuh tetap kuat di tengah masyarakat Ciamis.

Nama Galuh hadir dalam berbagai kegiatan budaya, situs sejarah, komunitas, kesenian, hingga lembaga masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Ciamis juga tetap merawat berbagai peninggalan Galuh melalui program kebudayaan dan dokumentasi sejarah. Galuh Virtual menyediakan informasi tentang situs budaya, sejarah, museum, dan berbagai warisan Tatar Galuh.

Dengan demikian, perubahan nama pada 1916 tidak menghapus Galuh dari kehidupan masyarakat.

fauzi

Komentar