Tiket PSGC Sold Out, Calo Muncul hingga Rp80 Ribu, Barmex Pertanyakan Sistem NIK

Berita, Daerah47 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO — Tiket pertandingan PSGC Ciamis yang dinyatakan sold out justru memunculkan pertanyaan di kalangan pendukung. Setelah tiket resmi habis melalui penjualan daring dan luring, tiket kembali disebut beredar melalui calo dengan harga mencapai Rp60 ribu hingga Rp80 ribu.

Kondisi tersebut membuat sebagian pendukung mempertanyakan mekanisme distribusi tiket, terutama karena pembelian tiket menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

Gian Henuk atau yang akrab disapa Barmex, pemerhati asal Ciamis sekaligus pendukung Laskar Singacala, menjadi salah satu yang mempertanyakan kondisi tersebut.

Awalnya, Barmex justru merasa bangga ketika mendengar tiket pertandingan PSGC habis terjual. Menurutnya, tiket sold out menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap tim kebanggaan Tatar Galuh.

Namun, pandangan itu berubah setelah ia mendapat informasi bahwa tiket masih beredar melalui calo.

Awalnya Bangga Tiket PSGC Sold Out

Barmex mengaku meminta bantuan seorang temannya untuk mendapatkan tiket pertandingan PSGC.

Temannya kemudian menyampaikan bahwa pembelian tiket membutuhkan NIK. Barmex pun mengirimkan kartu keluarga sebagai bagian dari proses pembelian.

Namun, ketika temannya mendatangi loket, tiket disebut sudah habis.

“Awalnya saya meminta tolong pada teman saya untuk dipesankan tiket nonton PSGC. Teman saya bilang bisa, tetapi harus pakai NIK. Oke, saya kirim kartu keluarga saya,” kata Barmex.

Informasi sold out sempat membuatnya bangga. Ia menilai tingginya permintaan tiket menjadi gambaran antusiasme masyarakat terhadap PSGC.

Namun, setelah itu temannya menyampaikan bahwa tiket masih tersedia melalui calo.

“Lamun arek paling aya di calo bro, ngan hargana rupa-rupa, aya nu 60 nepi ka 80,” ujar Barmex, mengutip percakapan dengan temannya.

Situasi tersebut membuat Barmex mempertanyakan kembali sistem penjualan tiket.

“Kebanggaan saya atas habisnya tiket langsung hilang,” katanya.

Pertanyakan Tiket Calo di Tengah Sistem NIK

Barmex kemudian mempertanyakan bagaimana tiket dapat kembali beredar melalui calo jika proses pembelian resmi menggunakan NIK.

Menurutnya, penggunaan identitas dalam pembelian tiket semestinya dapat membantu panitia mengontrol distribusi tiket.

“Karena merasa heran, kok masih keneh aya nya nu jadi calo, padahal meli tiket kudu make NIK. Ieu calo make NIK batur atawa kumaha sih bisa meunang tiket loba?” ujarnya.

Pertanyaan tersebut, menurut Barmex, perlu dijawab agar tidak menimbulkan asumsi di tengah masyarakat.

Ia meminta panitia menjelaskan bagaimana tiket dapat berpindah dari jalur penjualan resmi hingga kemudian muncul kembali di pasar sekunder.

Barmex Minta Panpel Beri Penjelasan

Barmex menilai persoalan tersebut perlu mendapat perhatian Panpel PSGC.

Ia tidak ingin tingginya antusiasme suporter justru menimbulkan persoalan baru akibat distribusi tiket yang belum dipahami publik.

“Jangan sampai masyarakat berasumsi liar, berpikiran bahwa ada kesengajaan dalam hal ini untuk mendapat keuntungan lebih,” katanya.

Barmex juga menyinggung kemungkinan penggunaan data pribadi dalam pembelian tiket.

Namun, ia menyampaikan hal tersebut sebagai pertanyaan yang perlu mendapat penjelasan, bukan sebagai kesimpulan bahwa telah terjadi penyalahgunaan data.

“Setahu saya kalau menyalahgunakan data pribadi orang lain itu adalah perbuatan melanggar hukum. Kalau calo bisa mendapatkan tiket dengan cara menggunakan data pribadi orang lain, tolong tangkap calonya. Kalau calonya dapat dari panitia, tangkap juga panitianya,” ujar Barmex.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan kekhawatiran Barmex. Belum ada informasi atau bukti yang menunjukkan bahwa calo menggunakan NIK milik orang lain maupun keterlibatan panitia dalam penjualan tiket kepada calo.

Usulkan Libatkan Kelompok Suporter

Untuk mengantisipasi persoalan serupa, Barmex menawarkan alternatif mekanisme distribusi.

Ia mengusulkan Panpel PSGC menjalin komunikasi dengan kelompok pendukung resmi yang memiliki basis anggota.

Menurutnya, kelompok suporter dapat membantu mengidentifikasi pendukung sekaligus memperluas akses tiket secara lebih tertib.

“Kenapa tidak, Panpel menjalin kerja sama dengan pendukung resmi PSGC yang sudah jelas memiliki data valid anggota. Sebut saja Balad Galuh, Siih Galuh, Baraya Galuh, Galuh Curva Sud (GCS) atau Ultras,” katanya.

Barmex menilai langkah tersebut dapat menjadi salah satu pilihan untuk mempertemukan kebutuhan panitia dengan antusiasme suporter.

Jangan Sampai Polemik Tiket Hambat Dukungan

Barmex berharap persoalan tiket tidak mengurangi kesempatan pendukung untuk menyaksikan langsung pertandingan PSGC.

Menurutnya, pemasukan dari tiket memang penting bagi klub. Namun, panitia juga perlu memperhatikan pendukung yang memiliki keterbatasan waktu maupun kemampuan menggunakan teknologi.

“JANGAN sampai, karena polemik tiket para pendukung terhambat untuk memberikan dukungan pada tim kebanggaan,” tegasnya.

Ia juga meminta sistem penjualan tiket mempertimbangkan akses yang lebih luas bagi suporter.

“Jangan hanya fokus cari cuan saja, pikirkan juga nasib pendukung setia PSGC yang kurang beruntung atau memiliki keterbatasan baik itu waktu maupun secara teknologi dalam usaha memperoleh tiket pertandingan,” pungkas Barmex.

Transparansi Distribusi Jadi Sorotan

Persoalan tersebut kini mengarah pada pertanyaan mengenai efektivitas sistem distribusi tiket setelah penjualan resmi dinyatakan habis.

Bagi suporter, informasi mengenai jumlah tiket, mekanisme pembelian menggunakan NIK, serta pengawasan terhadap penjualan kembali menjadi hal yang penting.

Penjelasan dari Panpel PSGC diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai mekanisme tersebut sekaligus mencegah munculnya dugaan yang belum terverifikasi.

Antusiasme tinggi masyarakat terhadap PSGC pada dasarnya menjadi energi positif bagi tim. Karena itu, Barmex berharap sistem tiket juga mampu memberikan akses yang adil dan transparan kepada para pendukung Laskar Singacala.

uzi

Komentar