Tokoh Pesantren Pimpin Mieling Ngadegna Sasak Cirahong, Teguhkan Nilai Sejarah dan Kebersamaan

Berita, Daerah12 Dilihat

Galuh Info – Peringatan Mieling Ngadegna Sasak Cirahong berlangsung khidmat dan sarat makna dengan dipimpin langsung oleh tokoh-tokoh pesantren di wilayah Galuh.

Dua figur yang menjadi sentral dalam kegiatan tersebut adalah K.H. Ahmad Musyafa, yang akrab disapa Haji Duleh, selaku Ketua Umum Persatean Pesantren Ortodok (PPO) Galuh, serta K.H. Ujang Habiburrohman dari Pesantren Darul Ulum Petir.

Kehadiran kedua ulama tersebut memberi warna tersendiri dalam rangkaian kegiatan yang bertujuan mengenang sejarah berdirinya Sasak Cirahong. Tidak hanya sebagai simbol penghormatan terhadap warisan leluhur, momentum ini juga menjadi ajang memperkuat nilai spiritualitas, persaudaraan, dan gotong royong di tengah masyarakat.

Dalam pandangannya, Sasak Cirahong bukan sekadar infrastruktur bersejarah, melainkan lambang perjuangan besar yang dibangun atas dasar niat baik dan kebersamaan. Pesan itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui peringatan tahunan tersebut.

K.H. Ahmad Musyafa menegaskan bahwa setiap keinginan besar selalu membutuhkan perjuangan dan dukungan banyak pihak. Menurutnya, sehebat apa pun seseorang memiliki niat, keberhasilan tidak dapat dicapai tanpa peran orang lain.

Ia juga menekankan pentingnya hubungan antarsesama manusia sebagai refleksi dari hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Nilai habluminannas dinilai menjadi pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, K.H. Ujang Habiburrohman menyampaikan bahwa menjaga sejarah adalah bagian dari menjaga jati diri sebuah bangsa. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak pernah melupakan perjuangan para leluhur yang telah mewariskan jejak peradaban.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasulan kepada para pendiri dan tokoh yang berjasa dalam pembangunan Sasak Cirahong. Prosesi ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa bersama untuk para leluhur.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tradisi Adan Vitu, yakni simbolisasi tujuh penyangga Sasak Cirahong melalui formasi tujuh orang di beberapa titik jembatan.

Tradisi tersebut mengandung filosofi kuat tentang pentingnya keseimbangan, solidaritas, dan saling menopang dalam kehidupan bersama.

Selain itu, lantunan salawat menggema dari arah Tasikmalaya menuju Ciamis, menambah nuansa religius dalam peringatan tersebut.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti prosesi mushofahah atau saling bersalaman sebagai simbol persaudaraan dan penguatan ikatan sosial.
Pihak penyelenggara juga berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan yang diperingati setiap tanggal bersejarah peresmian Sasak Cirahong.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap nilai sejarah yang dimiliki jembatan legendaris tersebut.

Sebagai cagar budaya yang memiliki keterkaitan sejarah internasional, Sasak Cirahong dinilai layak menjadi pusat edukasi budaya dan sejarah bagi generasi muda.

Melalui kegiatan ini, para tokoh pesantren berharap semangat masyarakat Galuh terus terjaga, sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam merawat warisan budaya.

Peringatan Mieling Ngadegna Sasak Cirahong pun menjadi bukti bahwa sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan dapat bersatu dalam satu momentum yang penuh makna.

Fauzi Gi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed