GALUH INFO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah menu daging sapi yang dibagikan di wilayah Sumber Jaya, Lampung Barat, viral di media sosial karena dinilai tidak layak konsumsi.
Keluhan tersebut pertama kali mencuat melalui sebuah video yang diunggah akun Instagram @lawanglampung pada Sabtu, 18 April 2026. Dalam video itu, terlihat seorang guru memperlihatkan kondisi daging sapi yang diduga berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tugu Sari 2 Lampung Barat.
Daging sapi yang menjadi bagian dari menu MBG itu tampak sulit dipotong meski telah diusahakan dengan tenaga cukup kuat. Bahkan, daging tersebut tetap menyatu dan tidak terbelah, sehingga memicu reaksi dari perekam video.
“Bagaimana ini MBG Sumber Jaya? Daging karet ini, tidak bisa dimakan. Sembelit nanti,” ucap perekam dalam video tersebut sambil tertawa.
Berdasarkan informasi yang beredar, menu daging sapi tersebut merupakan bagian dari paket MBG yang dibagikan pada Jumat, 17 April 2026. Selain daging sapi, paket makanan juga berisi nasi putih, tumis buncis wortel, tahu goreng, serta buah semangka.
Viralnya video tersebut memicu berbagai reaksi dari warganet. Banyak di antaranya mempertanyakan proses pengolahan daging yang diduga belum matang sempurna, sehingga menyebabkan tekstur menjadi keras dan sulit dikunyah.
Sejumlah komentar juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat program MBG. Mereka menilai kondisi makanan seperti itu berpotensi menyebabkan anak tersedak saat dikonsumsi.
“Ngasal banget masaknya, takut anak-anak keselek kalau begitu,” tulis salah satu warganet.
Komentar lainnya menyebutkan dugaan bahwa daging tidak dimasak dengan proses yang benar. “Itu baru potong sapi, langsung dikecapin doang ya? Nggak ada direbus sampai empuk,” tulis akun lainnya.
Tak hanya itu, beberapa warganet juga membandingkan dengan pengalaman serupa di daerah lain. Salah satunya menyebut menu MBG di Way Halim, Bandar Lampung, yang juga dinilai memiliki tekstur keras meskipun berbeda penyedia.
Menanggapi hal tersebut, Kepala SPPG Tugu Sari 2, Dedi Suhendra, memberikan pernyataan singkat. Ia membenarkan bahwa menu daging sapi tersebut memang berasal dari dapur SPPG yang dipimpinnya.
Namun demikian, ia belum dapat memberikan penjelasan lebih rinci terkait penyebab daging menjadi alot. Dedi menyatakan pihaknya perlu melakukan musyawarah internal bersama tim dapur untuk mengevaluasi kejadian tersebut.
Kasus ini kembali menjadi perhatian publik terkait kualitas pelaksanaan program MBG, khususnya dalam hal pengolahan makanan yang harus memenuhi standar kelayakan konsumsi, terutama bagi anak-anak sebagai sasaran utama program.
Pemerintah diharapkan dapat melakukan pengawasan lebih ketat terhadap pelaksanaan MBG di lapangan, termasuk memastikan kualitas bahan makanan dan proses memasak dilakukan sesuai standar gizi dan keamanan pangan.
Fauzi Gi











