Krisis Air Bersih Meluas, 44.733 Warga Pangandaran Masih Bergantung pada Bantuan

Berita, Daerah9 Dilihat

PANGANDARAN, GALUH.INFO — Krisis air bersih di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Meski hujan dengan intensitas ringan mulai turun, ketersediaan air di sejumlah sumber belum pulih sehingga masyarakat masih membutuhkan bantuan pasokan air bersih.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran hingga kini terus menyalurkan air bersih secara gratis kepada 15.603 kepala keluarga (KK) atau 44.733 jiwa. Distribusi bantuan menjangkau 116 dusun di 55 desa yang tersebar di 10 kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, mengatakan hujan ringan yang turun belum memberikan dampak signifikan terhadap pemulihan sumber air, terutama di wilayah pelosok perkampungan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat upaya pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat harus terus dilakukan bersama sejumlah instansi dan lembaga terkait.

“Intensitas hujan belum berdampak bagi warga di pelosok perkampungan. Berbagai upaya masih dilakukan secara masif agar meringankan beban keluarga,” ujar Dodo Kusnadi, Selasa (3/11/2026).

Bantuan Air Bersih Tembus 5,2 Juta Liter

Dodo mengungkapkan, total air bersih yang telah disalurkan berbagai pihak mencapai 5.269.194 liter.

Rinciannya, BPBD Kabupaten Pangandaran menyuplai 1.581.000 liter, Taruna Siaga Bencana (Tagana) sebanyak 2.017.194 liter, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) 445.000 liter, Palang Merah Indonesia (PMI) 770.000 liter, serta Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebanyak 446.000 liter.

Pengiriman air dilakukan sejak pagi, siang hingga malam hari. Berdasarkan keterangan Dodo, pendistribusian tersebut telah mencapai 316 tangki.

Adapun pasokan dari PDAM diperuntukkan bagi pelanggan yang terdampak krisis air bersih. Sementara itu, BPBD bersama Tagana, PMI dan BBWS terus menjangkau wilayah yang membutuhkan bantuan.

El Nino Memperparah Kekeringan

Dodo menjelaskan, fenomena El Nino turut memperburuk kondisi kekeringan di sejumlah wilayah. Debit air yang menyusut drastis menyebabkan banyak sumur warga mengering.

BPBD mencatat Kecamatan Parigi masuk kategori zona merah. Sementara itu, zona kuning meliputi Kecamatan Cigugur, Cimerak, Cijulang, Sidamulih, Pangandaran, Kalipucang, Padaherang, dan Mangunjaya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat di wilayah terdampak masih kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, distribusi bantuan terus diarahkan hingga ke pelosok perkampungan. BPBD juga melayani permintaan pasokan air sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Pasokan Diambil dari Sejumlah Sumber Mata Air

Untuk memenuhi kebutuhan warga, petugas mengambil air dari sejumlah sumber mata air, di antaranya Citumang, Cibeureum, dan Sidamulih.

Dodo menerangkan, hujan ringan belum cukup meningkatkan ketersediaan air pada sumber-sumber tersebut. Oleh sebab itu, masyarakat diminta menggunakan bantuan air secara bijak dan tidak berlebihan.

Kapasitas kendaraan tangki yang digunakan dalam distribusi juga berbeda. Armada BPBD memiliki kapasitas 5.000 liter, Tagana 6.000 liter, sedangkan kendaraan PMI dan BBWS masing-masing mampu mengangkut 5.000 liter.

“Krisis air bersih masih meluas lantaran ratusan sumur warga kering berada di 116 dusun, 55 desa tersebar di 10 kecamatan dan kami akan terus melakukan pasok air bersih ke pelosok perkampungan sesuai permintaan,” pungkas Dodo.

BPBD Kabupaten Pangandaran bersama unsur terkait akan terus mengupayakan distribusi air bersih selama masyarakat masih mengalami kesulitan mendapatkan sumber air. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga hingga kondisi sumber air kembali membaik.

secore, metrotv.com

Komentar