Dekranasda Banjar Dorong Sulam Sugul Jadi Produk Fesyen Bernilai Ekonomi

Berita, Daerah15 Dilihat

BANJAR, GALUH.INFO — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mendorong pengembangan kerajinan Sulam Sugul menjadi berbagai produk fesyen. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya daerah.

Ketua Dekranasda Kabupaten Banjar, Nurgita Tiyas, mengatakan Sulam Sugul selama ini lebih banyak digunakan untuk produk Bolang Haji. Padahal, kerajinan tradisional tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi beragam produk kreatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Selama ini penggunaan Sulam Sugul lebih banyak terbatas pada produk Bolang Haji sehingga belum menyasar produk fesyen. Melalui kegiatan ini, kami ingin mentransformasikan Sulam Sugul menjadi berbagai produk kreatif,” ujar Nurgita di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Senin.

Menurut Nurgita, Sulam Sugul merupakan salah satu kerajinan khas Banjar yang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung semangat kebersamaan. Namun, keberadaannya mulai tergerus seiring menurunnya permintaan pasar.

Sulam Sugul Dikembangkan Menjadi Produk Fesyen

Untuk memperkenalkan kembali kerajinan tersebut, Dekranasda Kabupaten Banjar menggelar workshop selama dua hari. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan para perajin sekaligus membuka peluang pengembangan Sulam Sugul ke pasar produk fesyen.

Nurgita berharap kerajinan Sulam Sugul dapat diaplikasikan pada berbagai produk, seperti tas, jilbab, pakaian, serta kerajinan lainnya.

Dengan pengembangan tersebut, Sulam Sugul diharapkan memiliki daya tarik pasar yang lebih luas sehingga dapat dikenal dan dinikmati oleh berbagai kalangan.

“Semoga melalui kegiatan ini semakin banyak masyarakat mengenal Sulam Sugul. Kami bangga para perajin bersedia dibina sekaligus menjadi komitmen dalam mengembangkan Sulam Sugul ke berbagai produk fesyen,” tuturnya.

Selain pembinaan, Nurgita mengajak Dekranasda, Tim Penggerak PKK, serta istri aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banjar untuk ikut mempromosikan kerajinan lokal.

Menurutnya, dukungan berbagai pihak diperlukan agar produk kerajinan daerah semakin dikenal dan diminati masyarakat.

Regenerasi Perajin Jadi Perhatian

Sementara itu, narasumber workshop, Norkhadijah, menjelaskan proses pembuatan Sulam Sugul membutuhkan waktu cukup lama. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan keberadaan kerajinan tradisional ini karena jumlah perajinnya mulai berkurang.

Ia berharap kegiatan pelatihan dapat menarik minat generasi muda untuk mempelajari teknik Sulam Sugul. Dengan demikian, regenerasi perajin dapat terus berjalan dan keterampilan tradisional tersebut tidak hilang.

Workshop Sulam Sugul berlangsung selama dua hari dan dilanjutkan dengan pameran hasil kerajinan para peserta.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Banjar Rahmi Robiati, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudporapar Banjar Sofia Windirianty, perwakilan TP PKK dan Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta para perajin.

Melalui pelatihan, pengembangan produk, dan promosi bersama, Sulam Sugul diharapkan tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk kerajinan yang mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.


uzi

Komentar