Kabut Asap Karhutla Kalimantan Tembus Malaysia, 108 Sekolah di Sarawak Ditutup

Berita, Daerah130 Dilihat

KALIMANTAN, GALUH.INFO – Linimasa media sosial ramai membahas maraknya kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan. Selain menimbulkan kerugian materi, kebakaran tersebut juga memicu kabut asap yang mengancam kualitas udara dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

Kabut asap dari Karhutla bahkan dilaporkan meluas hingga Malaysia. Kondisi pencemaran udara tersebut memicu langkah penanganan di Sarawak, termasuk penutupan sementara ratusan sekolah demi mengurangi risiko paparan udara tercemar terhadap para siswa.

Unggahan akun Instagram @undercover.id pada Jumat, 21 Agustus 2026, menyebut ratusan sekolah di Malaysia menghentikan kegiatan belajar tatap muka karena Indeks Pencemaran Udara atau API di sejumlah kawasan mencapai kategori sangat tidak sehat.

“Penutupan dilakukan karena Indeks Pencemaran Udara (API) di kawasan tersebut telah masuk kategori sangat tidak sehat,” tulis unggahan tersebut.

“Aktivitas belajar siswa selanjutnya dialihkan ke Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah,” sambungnya.

Informasi tersebut kemudian menarik perhatian warganet. Sejumlah kalangan juga mendorong otoritas berwenang untuk mengambil langkah cepat dalam mengantisipasi Karhutla dan mencari solusi agar kebakaran hutan serta lahan tidak terus terjadi.

108 Sekolah di Serian Sarawak Tutup Sementara

Media lokal Malaysia, Bernama, melaporkan sebanyak 108 sekolah di wilayah Serian, Sarawak, menutup kegiatan sementara akibat dampak kabut asap.

Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak atau JPBN Sarawak menyebut penutupan tersebut mengikuti kondisi kualitas udara di wilayah terdampak. Setelah menghentikan pembelajaran tatap muka, sekolah melanjutkan kegiatan belajar melalui Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah.

Otoritas Malaysia menerapkan pembelajaran dari rumah agar kegiatan pendidikan para siswa tetap berlangsung meski kabut asap mengganggu kondisi lingkungan.

“Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak,” tulis JPBN Sarawak dalam keterangan resminya, Jumat, 21 Agustus 2026.

“Sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200,” tambahnya.

Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi risiko paparan udara tercemar bagi siswa, terutama ketika indeks kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Sebanyak 13 Wilayah Sarawak Terdampak Pencemaran Udara

JPBN Sarawak menyatakan kualitas udara di sejumlah wilayah menunjukkan peningkatan nilai API sejak 1 Agustus 2026. Lembaga tersebut mencatat total 13 wilayah terdampak kondisi kabut asap.

Dua wilayah mencatat angka API yang masuk kategori sangat tidak sehat. Tebedu mencatat API 212, sedangkan Serian mencapai angka 202.

“2 wilayah mencatat pembacaan API dalam kategori sangat tidak sehat, yaitu 212 di Tebedu dan 202 di Serian,” ungkap JPBN Sarawak.

Selain itu, 11 wilayah lainnya masuk kategori tidak sehat. Wilayah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.

“Sementara 11 wilayah berada dalam kategori tidak sehat, yaitu Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas,” sebutnya.

Anak-anak hingga Ibu Hamil Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

JPBN Sarawak juga menjelaskan kategori pembacaan Indeks Pencemaran Udara. Nilai API nol hingga 50 menunjukkan kualitas udara baik. Selanjutnya, angka 51 hingga 100 masuk kategori sedang.

API pada rentang 101 hingga 200 menunjukkan kondisi udara tidak sehat. Sementara itu, angka 201 hingga 300 masuk kategori sangat tidak sehat. Pembacaan API di atas 300 tergolong berbahaya.

Karena itu, JPBN Sarawak mengimbau anak-anak dan seluruh masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih tinggi.

Lembaga tersebut juga memberikan perhatian kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap paparan udara tercemar, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu yang memiliki gangguan pernapasan atau jantung.

“Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar,” tandasnya.

Meluasnya kabut asap hingga ke Malaysia kembali menyoroti dampak Karhutla yang tidak hanya dirasakan masyarakat di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi tersebut juga menunjukkan dampak pencemaran udara yang dapat menjangkau wilayah lain dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan.

Komentar