CIAMIS | GALUH INFO — Pemerintah bersama unsur Forkopimda dan sejumlah instansi terkait memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi ancaman kekeringan
yang berpotensi melanda sekitar 4.000 hektare lahan sawah di wilayah perbatasan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran.
Rapat Koordinasi (Rakor) Mitigasi Kekeringan berlangsung di area pesawahan Desa Sidarahayu, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Kamis, 7 Mei 2026.
Kapolres Ciamis AKBP H. Hidayatullah, S.H., S.I.K., menghadiri langsung kegiatan tersebut bersama jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan sektor pertanian.
Panitia menggelar rakor mulai pukul 08.30 WIB hingga 11.00 WIB dengan fokus utama membahas strategi penyelamatan lahan pertanian dari ancaman musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026.
Ribuan Hektare Sawah Menghadapi Ancaman Kekeringan
Pemerintah memberi perhatian serius terhadap ancaman kekeringan di ribuan hektare sawah karena wilayah Lakbok dan sekitarnya menjadi salah satu daerah penyangga produksi pangan di kawasan selatan Jawa Barat.
Dalam rakor tersebut, pemerintah memaparkan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait fenomena “Godzilla El Nino” yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun 2026.
Fenomena iklim ekstrem itu mencapai puncak pada periode April hingga Oktober 2026 dan berpotensi menurunkan debit air irigasi, memicu gagal panen, serta mengganggu ketahanan pangan nasional.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat menyusun langkah antisipasi agar sektor pertanian tetap berjalan optimal di tengah ancaman kekeringan.
Kapolres Ciamis Kawal Ketahanan Pangan
Kehadiran Kapolres Ciamis dalam rakor tersebut menunjukkan dukungan kepolisian terhadap upaya menjaga stabilitas ketahanan pangan di wilayah Kabupaten Ciamis.
Selain Kapolres Ciamis, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, perwakilan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis.
Pangandaran, Komisi III DPRD Kabupaten Ciamis, Camat Purwadadi, Kapolsek Lakbok, DPD TMI Ciamis dan Pangandaran, kepala desa, kelompok tani, serta sejumlah tamu undangan lainnya menghadiri kegiatan tersebut.
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi langkah penting untuk menghadapi ancaman kekeringan yang berdampak luas terhadap produktivitas pertanian masyarakat.
Pemerintah Percepat Tanam dan Gunakan Varietas Tahan Kering
Dalam rakor tersebut, Kementerian Pertanian RI menekankan pentingnya percepatan tanam serempak guna mengantisipasi dampak musim kemarau panjang.
Pemerintah juga mendorong petani memakai varietas tanaman tahan kekeringan agar hasil produksi tetap stabil meski pasokan air berkurang.
Selain itu, pemerintah mengoptimalkan sistem irigasi sebagai langkah utama untuk meminimalkan risiko gagal panen di wilayah terdampak.
Strategi tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga pasokan pangan dan menghindari potensi krisis produksi pertanian akibat perubahan cuaca ekstrem.
BBWS Citanduy Perkuat Irigasi dan Tanggul Darurat
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy memaparkan sejumlah langkah teknis penanganan kekeringan di wilayah perbatasan Ciamis dan Pangandaran.
BBWS Citanduy memfokuskan penanganan pada penguatan tanggul darurat dan pengaturan distribusi air irigasi agar pasokan air tetap menjangkau area pertanian produktif.
Selain itu, instansi tersebut meninjau fasilitas Sistem Pengendalian Panjang Gelombang (SPPG) serta mendorong pelaksanaan gerakan irigasi bersih di wilayah irigasi Lakbok Utara.
Langkah tersebut bertujuan menjaga kelancaran saluran air dan meningkatkan efisiensi distribusi irigasi selama musim kemarau berlangsung.
Petani Menyesuaikan Pola Tanam
Melalui rakor tersebut, pemerintah dan instansi terkait mengimbau para petani untuk mulai menyesuaikan pola tanam menghadapi ancaman El Nino 2026.
Pemerintah juga meminta petani meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan pasokan pangan, penurunan produktivitas lahan,
hingga risiko kebakaran akibat meningkatnya suhu udara selama musim kemarau panjang.
Pemerintah berharap langkah mitigasi sejak dini mampu menjaga stabilitas produksi pertanian serta melindungi lahan sawah dari dampak kekeringan ekstrem.
Seluruh peserta menjaga situasi tetap aman, lancar, dan kondusif selama kegiatan berlangsung.
fauzi








Komentar