Nyiar Lumar dan Kisah di Balik Nama Linda Praja: Warisan Leluhur yang Tetap Menyala

Berita, Daerah156 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO — Kembalinya tradisi Nyiar Lumar 2026 setelah empat tahun vakum tidak hanya menghadirkan kemeriahan seni dan budaya di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis. Di balik cahaya obor, iring-iringan warga, dan pertunjukan seni, tersimpan kisah tentang keluarga yang selama bertahun-tahun ikut menjaga warisan budaya Tatar Galuh.

Di antara para tokoh dan undangan yang hadir, sosok Linda Praja menyaksikan perhelatan tersebut dengan perasaan yang mendalam. Bagi masyarakat Kawali, kehadirannya bukan sekadar sebagai tamu. Linda merupakan bagian dari keluarga yang memiliki jejak dalam perjalanan pelestarian tradisi Nyiar Lumar.

Nyiar Lumar sendiri bukan sekadar festival seni. Tradisi tersebut menjadi simbol kerinduan masyarakat Tatar Galuh untuk mencari kembali cahaya kebaikan, nilai budaya, dan kearifan leluhur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Secara makna, kata “Nyiar” berarti mencari. Sementara “Lumar” merujuk pada jamur bercahaya yang tumbuh di hutan. Filosofi tersebut kemudian menjadi simbol pencarian cahaya, harapan, petunjuk kehidupan, serta nilai-nilai leluhur yang tetap menyala meskipun zaman terus berubah.

Jejak Keluarga Pradja dalam Nyiar Lumar

Selama puluhan tahun, para penggagas dan pelestari budaya di Kawali terus menjaga tradisi tersebut. Salah satu keluarga yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan Nyiar Lumar adalah keluarga besar Pradja.

Linda Praja merupakan putri dari Abah Daday Hendarman Pradja, sosok yang namanya masih dikenang masyarakat Kawali. Kebaikan dan kiprahnya juga masih dirasakan hingga sekarang.

Linda juga merupakan cucu dari almarhum H.D. Kardja Pradja. Karena itu, perjalanan pelestarian budaya bukan sesuatu yang asing baginya. Nilai tersebut tumbuh dari lingkungan keluarga dan kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Linda tidak hanya hadir sebagai penonton ketika Nyiar Lumar kembali digelar. Ia membawa sebuah cerita tentang warisan keluarga, tentang kebaikan yang ingin terus dikenang, serta tentang tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai leluhur.

Dalam sebuah ungkapan penuh haru, Linda menuliskan:

“Terimakasih papaahh, Abah Daday Hendarman Pradja.. semua kebaikan Abah masih terasa sampai hari ini 🕊️”

Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana sosok sang ayah meninggalkan kesan mendalam dalam kehidupan Linda.

Makna di Balik Nama Yayasan Putri Praja Mandiri

Jejak keluarga itu juga tercermin melalui nama Yayasan Putri Praja Mandiri, yang kini dipimpin Linda Praja.

Nama tersebut bukan sekadar identitas sebuah lembaga. Di dalamnya tersimpan makna dan harapan yang berkaitan dengan keluarga, kemandirian, serta semangat untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Putri bermakna anak perempuan. Nama tersebut menjadi simbol kelembutan sekaligus kekuatan seorang perempuan dalam menjaga dan meneruskan warisan keluarga.

Praja merupakan nama kebesaran keluarga yang berakar dari sosok kakek dan ayahnya. Nama itu sekaligus membawa tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan.

Sementara Mandiri menggambarkan semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri, terus berusaha, serta memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Rangkaian nama tersebut kemudian menjadi sebuah doa. Harapannya, Linda dapat tumbuh sebagai pribadi yang teguh, mampu mewujudkan cita-cita, serta terus memberikan manfaat bagi sesama, budaya, dan tanah air.

Obor Nyiar Lumar dan Warisan yang Tak Padam

Ketika obor Nyiar Lumar kembali dinyalakan di halaman Kecamatan Kawali, cahaya tersebut tidak hanya menerangi malam.

Bagi keluarga Pradja, cahaya obor itu juga dapat dimaknai sebagai simbol keberlanjutan. Semangat para leluhur untuk menjaga budaya tetap diteruskan kepada generasi berikutnya.

Empat tahun vakum tidak membuat Nyiar Lumar kehilangan maknanya. Justru kembalinya tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa budaya membutuhkan orang-orang yang mau merawat, menjaga, dan meneruskannya.

Linda Praja menjadi salah satu sosok yang membawa pesan tersebut melalui perjalanan keluarganya.

Warisan leluhur tidak selalu hadir dalam bentuk benda atau peninggalan sejarah. Ia juga dapat hidup melalui nilai kebaikan, kepedulian terhadap masyarakat, kecintaan terhadap budaya, serta keberanian generasi penerus untuk menjaga apa yang telah diwariskan.

Nyiar Lumar pun kembali menyala.

Cahayanya menerangi perjalanan budaya Kawali sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama ada generasi yang bersedia merawatnya.

“Seperti obor yang menyala di tengah malam, semangat leluhur bukan hanya untuk menerangi diri sendiri, tetapi untuk menjadi cahaya bagi orang lain.”

ujang Aep

Komentar