CIAMIS, GALUH.INFO – Warga Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, kembali menjalankan tradisi Nyuguh, Minggu (9/8/2026).
Warga menggelar tradisi tahunan tersebut setiap 25 Sapar dalam kalender Islam. Masyarakat berkumpul di alun-alun Kampung Adat Kuta sejak pagi dengan mengenakan pakaian tradisional dan menampilkan berbagai kesenian khas daerah.
Tradisi Nyuguh tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Warga Kampung Adat Kuta menjadikan kegiatan tersebut sebagai cara untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat hubungan sosial, serta mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan hasil bumi.
Suasana adat semakin terasa ketika alunan musik tradisional mengiringi aktivitas warga. Berbagai kesenian khas Kampung Kuta turut menghidupkan rangkaian kegiatan.
Nyuguh Mengandung Pesan Syukur dan Berbagi
Kepala Dusun Kampung Kuta, Didi Sardi, menjelaskan masyarakat memaknai Nyuguh sebagai tradisi berbagi yang diwariskan para leluhur.
Warga membawa berbagai hasil bumi dan makanan dalam arak-arakan menuju Sungai Cijolang. Mereka kemudian membagikan dan menyantap makanan tersebut bersama-sama setelah menjalankan doa bersama.
“Intinya adalah sedekah dan saling berbagi, sama seperti leluhur kami yang dahulu memberi jamuan kepada para prajurit,” ujar Didi.
Didi mengatakan masyarakat Kampung Kuta menjalankan Nyuguh setiap tahun pada 25 Sapar. Tradisi tersebut juga mengingatkan warga agar tidak melupakan sejarah dan asal-usul kampung.
“Nyuguh dilaksanakan satu tahun sekali, setiap tanggal 25 Sapar,” kata Didi.
Warga mempertahankan tradisi tersebut dari generasi ke generasi. Mereka tidak hanya menjaga rangkaian ritual, tetapi juga mempertahankan nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya.
Arak-arakan Dongdang Menuju Sungai Cijolang
Rangkaian utama Nyuguh berlangsung setelah salat Ashar. Warga bersama tamu undangan berjalan menuju tepian Sungai Cijolang, sungai yang menjadi batas wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Warga membawa dongdang atau tandu berisi hasil bumi, ketupat, umbi-umbian, serta perlengkapan tradisi. Tabuhan dog-dog mengiringi perjalanan warga menuju tepian sungai.
Setibanya di lokasi, warga berkumpul dan menjalankan doa bersama. Mereka memanjatkan doa untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta kebaikan bagi masyarakat.
Setelah doa selesai, warga membagikan makanan dan menyantap hidangan bersama. Momen tersebut memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan karena warga dan tamu undangan duduk bersama tanpa membedakan latar belakang.
Gondang Buhun Warnai Pelaksanaan Nyuguh
Masyarakat juga menampilkan Gondang Buhun, kesenian tradisional yang berkembang di Kampung Adat Kuta.
Tabuhan dog-dog dan rengkong mengiringi sejumlah rangkaian kegiatan. Kesenian tersebut sekaligus menyambut rombongan pemerintah daerah dan tamu undangan yang menghadiri tradisi Nyuguh.
Kehadiran kesenian tradisional tersebut memperkuat identitas budaya Kampung Adat Kuta. Masyarakat terus memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal dan menjaga kesenian warisan leluhur.
Kampung Adat Kuta Pertahankan Aturan Leluhur
Kampung Adat Kuta memiliki sejumlah aturan adat yang masih masyarakat jalankan hingga sekarang. Salah satunya menyangkut bentuk rumah warga yang tidak boleh menggunakan tembok.
Masyarakat juga mengenal berbagai pantangan atau pamali yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Aturan tersebut menunjukkan cara masyarakat Kampung Adat Kuta mempertahankan hubungan antara kehidupan sosial, adat, dan lingkungan.
Tradisi Nyuguh menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Pemkab Ciamis Dorong Pelestarian Budaya Kampung Kuta
Pemerintah Kabupaten Ciamis melihat Nyuguh sebagai salah satu kekayaan budaya yang perlu masyarakat dan pemerintah jaga bersama.
Sekretaris Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Ciamis, Ayi Daud, mengatakan Kabupaten Ciamis memiliki berbagai warisan budaya, baik berupa benda maupun warisan budaya takbenda.
Menurutnya, Kampung Adat Kuta menjadi salah satu kawasan yang masih menjalankan warisan budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Nyuguh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah,” ujar Ayi.
Pemerintah daerah berharap masyarakat terus mempertahankan tradisi tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Nyuguh 2026 Angkat Tema Persaudaraan dan Pelestarian Adat
Pelaksanaan Nyuguh tahun ini mengangkat tema “Ngamumule Adat Karuhun, Ngukuhkeun Deduluran Sapanjang Wates Lembur jeung Provinsi.”
Tema tersebut menekankan semangat merawat adat leluhur sekaligus memperkuat persaudaraan masyarakat di kawasan perbatasan.
Rangkaian kegiatan juga membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Masyarakat tidak hanya menjalankan tradisi, tetapi juga mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian alam.
Panitia menghadirkan pameran produk UMKM dan kelompok perhutanan sosial. Warga juga mendapatkan bibit pohon secara gratis.
Kegiatan tersebut memperluas makna Nyuguh. Tradisi tidak hanya mengajarkan rasa syukur dan berbagi, tetapi juga mendorong masyarakat menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Nyuguh Jadi Ruang Pelestarian Budaya dan Lingkungan
Tradisi Nyuguh di Kampung Adat Kuta menunjukkan bahwa masyarakat dapat mempertahankan adat sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan kehidupan masa kini.
Warga menjaga nilai leluhur melalui kegiatan berbagi, kesenian tradisional, doa bersama, dan penghormatan terhadap alam.
Keterlibatan hampir seluruh warga membuat Nyuguh tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan Kampung Adat Kuta.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat tidak hanya mengenang warisan leluhur, tetapi juga membangun persaudaraan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Nyuguh akhirnya menjadi ruang bersama untuk merawat adat, memperkuat kebersamaan, melestarikan budaya Sunda, serta menjaga alam di Kampung Adat Kuta Ciamis.
fauzi











Komentar