Saroja Rancah, Kue Tradisional Ciamis yang Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Berita, Daerah330 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO – Saroja Rancah menjadi salah satu camilan tradisional yang memperlihatkan kuatnya tradisi kuliner masyarakat Kabupaten Ciamis. Kue berbentuk bunga tersebut memiliki tekstur renyah dan rasa gurih.

Pemerintah Kabupaten Ciamis mencatat Saroja sebagai salah satu produk kuliner yang berkembang di wilayah Ciamis. Produksi saroja banyak terdapat di Kecamatan Rancah. Data pemerintah daerah mencatat produksi Saroja mencapai sekitar 40.800 bungkus per tahun.

Kue tersebut tidak hanya hadir sebagai camilan. Masyarakat juga menyajikannya dalam berbagai acara keluarga, perayaan, pernikahan, dan hari raya.

Bentuk Bunga Menjadi Ciri Khas

Nama Saroja berasal dari bentuknya yang menyerupai bunga seroja. Produsen menggunakan cetakan khusus untuk menghasilkan bentuk tersebut.

Adonan menggunakan bahan dasar tepung beras yang masyarakat campur dengan bahan lain seperti garam dan irisan daun jeruk. Produsen kemudian mencelupkan cetakan ke dalam adonan sebelum memasukkannya ke minyak panas.

Proses tersebut membutuhkan ketelitian. Produsen harus menjaga ketebalan adonan agar kue dapat terlepas dari cetakan dengan bentuk yang tetap rapi.

Teknik sederhana tersebut menjadi bagian dari keterampilan yang diwariskan antargenerasi.

Saroja Hadir dalam Tradisi Keluarga

Saroja memiliki hubungan kuat dengan berbagai kegiatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Ciamis menyebut masyarakat sering menyajikan kue tersebut dalam perayaan, pernikahan, dan Lebaran.

Kehadiran saroja dalam berbagai acara membuat makanan tersebut memiliki nilai sosial. Keluarga tidak hanya membuatnya untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga untuk menjamu tamu.

Tradisi tersebut membuat saroja tetap bertahan meskipun masyarakat kini memiliki banyak pilihan makanan modern.

Rancah Menjadi Salah Satu Sentra

Kecamatan Rancah memiliki peran penting dalam perkembangan saroja Ciamis. Produk tersebut berkembang melalui usaha masyarakat dan UMKM.

Dalam perkembangan terbaru, pelaku usaha juga menciptakan inovasi berukuran kecil. Visit Ciamis mencatat produk seperti Sarmini, kependekan dari Saroja Mini, dan Sarmila, Saroja Mini Lada, sebagai inovasi produk dari wilayah Rancah.

Inovasi tersebut memperlihatkan cara pelaku UMKM menyesuaikan makanan tradisional dengan kebutuhan konsumen.

Produk tradisional tetap mempertahankan bentuk dan karakter dasarnya, tetapi produsen dapat mengubah ukuran dan rasa agar lebih mudah diterima pasar.

Tradisi Bertahan hingga 2026

Perjalanan saroja menunjukkan bahwa makanan tradisional tidak harus berhenti pada bentuk lama. Pelaku usaha dapat melakukan inovasi tanpa menghilangkan identitas produk.

Pada 2026, Saroja Rancah tetap masuk dalam pembahasan kuliner khas Ciamis. Visit Ciamis kembali menampilkan Saroja Rancah sebagai salah satu jejak kuliner lokal Ciamis.

Kondisi tersebut memberikan peluang bagi generasi muda untuk melanjutkan usaha kuliner keluarga. Mereka dapat memanfaatkan teknologi pemasaran, kemasan modern, dan media sosial untuk memperluas pasar.

Dengan demikian, saroja tidak hanya menjadi makanan yang tersimpan dalam toples keluarga. Kue tersebut juga dapat menjadi produk ekonomi kreatif yang membawa nama Rancah dan Ciamis ke pasar yang lebih luas.

fauzi

Komentar