Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji

Berita, Nasional198 Dilihat

CIAMIS, GALUH.INFO – Ada satu kenyataan yang mungkin terasa tidak nyaman untuk dibicarakan di lingkungan pers: idealisme memang penting, tetapi idealisme saja tidak cukup untuk membayar gaji.

Kalimat itu mungkin terdengar terlalu pragmatis. Bahkan, sebagian orang mungkin menganggapnya terlalu berorientasi pada bisnis. Namun, justru karena kita percaya pada pentingnya jurnalisme, persoalan keberlangsungan perusahaan pers harus dibicarakan secara terbuka.

Wartawan membutuhkan gaji. Editor membutuhkan gaji. Perusahaan harus membayar biaya kantor, teknologi, server, liputan, perjalanan, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Pers membutuhkan idealisme agar publik tetap percaya. Namun, perusahaan pers juga membutuhkan bisnis agar dapat terus hidup.

Di tengah perubahan lanskap industri yang berlangsung sangat cepat, persoalan tersebut kini menjadi semakin penting. Media tidak hanya menghadapi persaingan antarsesama perusahaan pers. Mereka juga berebut perhatian publik dengan platform digital, influencer, content creator, YouTuber, TikToker, podcaster, KOL, hingga berbagai bentuk media baru.

Perhatian Publik Berpindah, Kue Ekonomi Ikut Bergeser

Dulu, ketika masyarakat membutuhkan informasi, media menjadi salah satu tujuan utama. Ketika perusahaan ingin menjangkau masyarakat, media juga menjadi salah satu pintu utama.

Audiens berkumpul di media. Karena itu, iklan pun mengalir ke media.

Hari ini, situasinya berubah.

Perhatian publik kini tersebar ke berbagai platform. Ada TikTok, Instagram, YouTube, podcast, influencer, KOL, content creator, streamer, akun komunitas, dan berbagai bentuk kanal digital lain yang terus bermunculan.

Semuanya memperebutkan satu komoditas yang sama, yaitu perhatian manusia atau attention.

Ketika perhatian berpindah, uang biasanya ikut bergerak. Anggaran komunikasi perusahaan yang sebelumnya banyak mengalir ke media kini harus terbagi dengan creator, influencer, digital agency, platform media sosial, marketplace, hingga live commerce.

Kue ekonominya sebenarnya tidak hilang. Namun, kuenya berpindah meja.

Ironisnya, ketika ekosistem media semakin besar, banyak perusahaan pers justru menghadapi tekanan ekonomi. Redaksi yang sebelumnya memiliki ratusan pekerja kini menyusut menjadi puluhan orang. Bahkan, tidak sedikit media yang bertahan dengan tim berisi tiga hingga lima orang.

Persoalannya bukan karena mereka kehilangan idealisme. Sering kali masalahnya jauh lebih sederhana: pendapatan yang masuk tidak lagi mampu menopang struktur biaya seperti sebelumnya.

Media Tidak Mati, Justru Semakin Meledak

Kita perlu membedakan antara media dan perusahaan pers.

Perusahaan pers memang menghadapi tantangan bisnis yang semakin berat. Namun, media dalam arti kemampuan memproduksi dan menyebarkan informasi sebenarnya tidak sedang mati. Sebaliknya, media justru berkembang sangat cepat.

Hari ini, hampir setiap orang dapat menjadi media.

Seseorang dengan smartphone dapat membuat informasi, membangun audiens hingga jutaan orang, memengaruhi opini publik, bahkan menghasilkan pendapatan yang mungkin lebih besar daripada perusahaan pers dengan belasan karyawan.

Kita dapat menyebut mereka influencer, KOL, YouTuber, TikToker, podcaster, atau content creator. Namun, dari sisi fungsi, mereka melakukan sebagian pekerjaan yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan utama media.

Mereka memproduksi pesan, mendistribusikan informasi, membangun audiens, dan memengaruhi publik.

Tentu, pers memiliki perbedaan mendasar.

Jurnalisme memiliki proses verifikasi, kode etik, tanggung jawab, serta disiplin profesi. Nilai-nilai tersebut tidak boleh hilang hanya karena zaman berubah. Justru, nilai itu menjadi kekuatan utama pers dalam membangun kepercayaan.

Namun, industri pers juga tidak boleh merasa sebagai satu-satunya pihak yang berhak disebut media.

Ketika masyarakat membuka TikTok atau YouTube, mereka tidak selalu bertanya apakah sebuah informasi berasal dari perusahaan pers atau seorang creator. Mereka lebih sering mempertimbangkan hal yang lebih sederhana: apakah informasi itu menarik, berguna, dan dapat dipercaya.

Pertarungan Media Kini: Attention dan Trust

Karena itu, pertarungan media hari ini tidak lagi semata-mata soal siapa yang paling cepat menyampaikan berita.

Pertarungan yang sesungguhnya terjadi pada dua hal: attention dan trust.

Creator sering memiliki keunggulan dalam merebut attention. Mereka memahami format digital, membangun kedekatan dengan audiens, dan mampu menarik perhatian dalam waktu singkat.

Sementara itu, pers seharusnya memiliki kekuatan besar dalam membangun trust atau kepercayaan.

Jika kedua kekuatan tersebut dapat bertemu, di situlah peluang masa depan media terbuka.

Creator tidak harus menjadi musuh wartawan. Media sosial juga tidak harus menjadi musuh perusahaan pers. Sebaliknya, perubahan teknologi seharusnya mendorong industri untuk menemukan cara baru dalam memproduksi, mendistribusikan, dan mengembangkan informasi.

Wartawan masa depan mungkin tidak cukup hanya pandai menulis.

Ia juga perlu memahami video, mampu berbicara di depan kamera, mengenal karakter platform digital, memahami algoritma, membangun komunitas, dan bahkan mengembangkan audiensnya sendiri.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang: disiplin jurnalistik.

Kecepatan tidak boleh mengalahkan verifikasi. Viral tidak boleh mengalahkan kebenaran. Perhatian publik juga tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan tanggung jawab.

Perusahaan Pers Harus Membangun Model Bisnis Baru

Di sisi lain, perusahaan pers tidak bisa terus menggantungkan masa depannya hanya pada traffic website dan banner advertising.

Model bisnis harus berkembang.

Perusahaan pers perlu membangun ekosistem yang lebih luas, mulai dari publisher, creator, video, podcast, komunitas, event, media sosial, live commerce, creative services, data, hingga berbagai model transaksi baru yang relevan dengan perkembangan zaman.

Hal tersebut bukan berarti pers berubah menjadi pedagang.

Justru, bisnis yang sehat dapat membantu perusahaan pers menjaga ruang redaksi agar tetap independen.

Kita juga perlu berhenti menganggap bisnis sebagai kata kotor dalam dunia pers.

Media tanpa model bisnis yang sehat justru lebih rentan kehilangan independensi. Ketika pendapatan tidak cukup, perusahaan dapat menghadapi ketergantungan kepada pemilik modal, pemerintah, pengiklan, kepentingan politik, atau siapa pun yang bersedia menyediakan pembiayaan.

Di titik itulah bisnis yang sehat menjadi bagian dari perlindungan terhadap idealisme.

Idealisme dan Bisnis Bukan Dua Musuh

Idealisme dan bisnis seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kekuatan yang saling berhadapan.

Idealisme menghasilkan sesuatu yang sangat mahal dalam industri media, yaitu kepercayaan.

Kepercayaan membangun audiens. Audiens menciptakan pengaruh. Dan pengaruh memiliki nilai ekonomi.

Masalahnya, banyak perusahaan media belum berhasil mengubah rantai tersebut menjadi model bisnis yang benar-benar sehat dan berkelanjutan.

Karena itu, mungkin yang gagal bukan idealismenya.

Yang perlu dibenahi adalah model bisnis yang belum mampu mengubah kepercayaan menjadi keberlanjutan.

Inilah persimpangan yang sedang dihadapi industri media.

Kita tidak perlu mengurangi idealisme agar bisnis dapat tumbuh. Namun, kita juga tidak bisa terus meneriakkan idealisme sambil membiarkan perusahaan pers perlahan kehabisan napas.

Pada akhirnya, wartawan tetap harus membawa pulang gaji. Perusahaan tetap harus membayar tagihan. Liputan membutuhkan biaya. Teknologi membutuhkan investasi. Dan jurnalisme berkualitas tidak lahir tanpa dukungan sumber daya yang memadai.

Masa depan pers, karena itu, bukan soal memilih antara idealisme atau bisnis.

Tantangannya jauh lebih besar: bagaimana menjadikan idealisme sebagai fondasi bisnis yang berkelanjutan, tanpa pernah menjual idealismenya.

UZI

Komentar