CIAMIS, GALUH.INFO – Nama Prof. Mr. R.H. Iwa Kusumasumantri menempati posisi penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Tokoh kelahiran Ciamis ini tidak hanya aktif dalam pergerakan kemerdekaan, tetapi juga menjalankan tugas penting setelah Indonesia merdeka.
Iwa lahir di Ciamis pada 31 Mei 1899. Ia kemudian menempuh pendidikan hukum dan aktif dalam pergerakan nasional. Pemerintah Republik Indonesia kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Iwa melalui Keputusan Presiden Nomor 073/TK/Tahun 2002.
Iwa Tumbuh dari Lingkungan Pendidikan Ciamis
Iwa berasal dari keluarga Raden Wiramantri yang bekerja sebagai kepala sekolah dan kemudian menjadi penilik sekolah di Kabupaten Ciamis. Lingkungan pendidikan tersebut ikut membentuk cara berpikir Iwa sejak usia muda.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Iwa melanjutkan pendidikan ke sekolah hukum. Ia kemudian pergi ke Belanda untuk memperdalam ilmu hukum sekaligus aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia.
Arsip Kementerian Pendidikan mencatat bahwa Iwa menjadi ketua Indonesische Vereniging pada 1923–1924. Pada masa itu, Mohammad Hatta juga berada dalam kepengurusan organisasi tersebut.
Perjuangan Iwa Berpihak kepada Rakyat
Setelah menyelesaikan pendidikan, Iwa kembali ke Indonesia dan menjalankan profesi sebagai pengacara. Ia tidak hanya menangani persoalan hukum, tetapi juga aktif membela pekerja dan rakyat yang menghadapi tekanan kolonial.
Iwa mendirikan surat kabar Matahari Indonesia di Medan. Ia menggunakan media tersebut untuk menyuarakan kepentingan buruh dan petani.
Aktivitas politik dan tulisannya membuat pemerintah kolonial menangkap Iwa. Pemerintah kolonial kemudian membuangnya ke Banda Neira. Namun, pembuangan tersebut tidak menghentikan aktivitas perjuangannya.
Iwa Ikut Membangun Republik
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Presiden Soekarno mempercayakan jabatan Menteri Sosial kepada Iwa pada kabinet pertama Republik Indonesia.
Iwa kemudian menjalankan tugas sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Ali Sastroamidjojo pada 1953–1955. Ia juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan menjadi rektor pertama Universitas Padjadjaran pada 1957.
Perjalanan tersebut memperlihatkan luasnya pengabdian Iwa. Ia bergerak dalam bidang hukum, politik, pemerintahan, pendidikan, dan penulisan sejarah.
Usulan Kata “Proklamasi” Melekat dalam Sejarah
Salah satu kisah yang paling dikenal dari Iwa berkaitan dengan penyusunan teks kemerdekaan Indonesia.
Sumber sejarah Ciamis mencatat bahwa Iwa mengusulkan penggunaan kata “proklamasi” sebagai istilah untuk pernyataan kemerdekaan Indonesia. Sebelumnya, muncul gagasan penggunaan kata “maklumat”.
Peran tersebut membuat nama Iwa semakin penting dalam narasi sejarah perjuangan kemerdekaan.
Warisan Iwa untuk Generasi Muda
Iwa meninggal dunia pada 27 November 1971. Pemerintah kemudian memberikan gelar Pahlawan Nasional pada 2002.
Bagi masyarakat Ciamis, kisah Iwa menjadi pengingat bahwa perjuangan seorang anak daerah dapat memberikan pengaruh pada tingkat nasional.
Kisah Iwa juga mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung melalui medan perang. Pendidikan, hukum, tulisan, politik, dan keberanian menyampaikan gagasan juga dapat menjadi bagian dari perjuangan bangsa.
fauzi












Komentar