DAIRI, GALUH.INFO – Sebuah video yang memperlihatkan seorang bocah laki-laki berinisial AGP (7) mengaku mengalami dugaan penganiayaan oleh bibinya sendiri viral di media sosial. Dalam video tersebut, AGP terlihat mengalami sejumlah luka di bagian wajah hingga kaki, sementara bagian bibirnya tampak berdarah.
Setelah video itu menyebar luas, publik mengetahui bahwa AGP tinggal di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Kasus dugaan kekerasan terhadap anak tersebut kemudian mendapat penanganan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Dairi.
Petugas bersama Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Dairi membawa AGP untuk mendapatkan pemeriksaan dan pertolongan medis. Polisi juga mengungkap dugaan bahwa adik korban, AP (6), mengalami luka-luka dan menjadi korban dalam kasus yang sama.
AGP Tinggal Bersama Bibi Tanpa Orang Tua
Dalam video yang beredar, AGP menceritakan kondisi keluarganya. Bocah tersebut mengaku tidak tinggal bersama kedua orang tuanya.
Ia menyebut ayahnya sedang berada di penjara terkait narkoba. Sementara itu, AGP mengaku tidak mengetahui keberadaan ibunya.
“Bapakku di penjara narkoba, mamakku enggak tahu di mana. Aku disiksa di sini,” kata AGP dalam video yang diunggah akun Threads @rudicllub, dikutip Sabtu, 22 Agustus 2026.
Keterangan dalam video tersebut kemudian mengundang perhatian publik. Petugas Unit PPA Satreskrim Polres Dairi bersama Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Dairi mendatangi AGP dan berupaya membawanya ke rumah sakit.
Namun, proses membawa korban untuk mendapatkan pertolongan medis sempat menghadapi kendala. Seorang perempuan berinisial RS (52), yang merupakan bibi korban, awalnya melarang petugas membawa AGP.
Setelah RS memberikan izin, petugas langsung membawa AGP ke RSUD Sidikalang untuk mendapatkan penanganan medis.
Polisi Selidiki Dugaan Kekerasan yang Dilakukan Bibi
Kepada petugas, AGP menyampaikan bahwa RS merupakan “Mak Tua” atau bibinya. Polisi menduga perempuan tersebut kerap melakukan kekerasan fisik terhadap bocah berusia tujuh tahun itu.
Kasi Humas Polres Dairi, AKP Syahril Ramadhan, mengatakan AGP merasa takut terhadap RS. Rasa takut tersebut, menurut polisi, membuat korban tidak berani melaporkan apa yang dialaminya.
“RS merupakan wanita yang paling ditakuti oleh AGP, sehingga si anak takut untuk melapor terkait apa yang sudah dialaminya,” ujar Syahril Ramadhan dalam keterangannya kepada awak media, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Petugas kemudian membawa AGP menjalani visum. Hasil pemeriksaan menemukan sejumlah luka pada tubuh korban.
Menurut hasil visum, AGP mengalami luka di bagian bibir, lebam pada tangan kiri, serta luka yang sudah bernanah. Petugas juga menemukan luka bernanah pada bagian kaki kanan.
Temuan tersebut kini menjadi bagian dari proses penyelidikan dugaan kekerasan terhadap anak yang ditangani Unit PPA Satreskrim Polres Dairi.
Adik AGP Berinisial AP Juga Diduga Mengalami Kekerasan
Dalam perkembangan penyelidikan, polisi menemukan dugaan adanya korban lain. Adik AGP yang berinisial AP (6) juga mengalami sejumlah luka.
Syahril mengatakan penyidik menduga luka yang dialami AP berkaitan dengan tindakan RS. Dengan temuan tersebut, polisi kini menangani dugaan kekerasan terhadap dua anak.
“Adiknya berinisial AP mengalami luka-luka yang diduga disebabkan oleh RS. Sehingga terdapat dua korban dalam kasus tersebut,” imbuhnya.
Polisi telah mengamankan RS di Satreskrim Polres Dairi untuk menjalani proses penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, AGP dan AP masih menjalani perawatan medis di RSUD Sidikalang.
Penyidik masih mendalami motif dan kronologi dugaan kekerasan tersebut.
“Terkait motif dan bagaimana kronologi kekerasan tersebut, sedang didalami oleh Unit PPA. Kita tunggu saja dulu ya,” tegas Syahril.
Pemkab Dairi Siapkan Pendampingan untuk Pemulihan Korban
Pemerintah Kabupaten Dairi juga memberikan perhatian terhadap kondisi kedua korban. Pemerintah memastikan AGP dan AP akan mendapatkan pendampingan untuk membantu pemulihan kondisi fisik maupun mental.
Wakil Bupati Dairi Wahyu Daniel Sagala menyampaikan perlindungan dan pemulihan kesehatan kedua anak menjadi perhatian utama.
“Yang paling utama adalah memastikan anak ini mendapat perlindungan, pemulihan kesehatan fisik dan mental,” ujar Wahyu Daniel Sagala saat mengunjungi korban, dikutip dari laman resmi Pemkab Dairi, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Ia meminta seluruh pihak terkait terus memantau perkembangan kondisi kedua korban. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemberian trauma healing dan pemenuhan kebutuhan nutrisi selama proses pemulihan.
“Kita meminta seluruh pihak terkait terus memonitor perkembangannya, memberikan trauma healing, dan memastikan kebutuhan nutrisinya juga terpenuhi,” lanjutnya.
Hingga kini, Unit PPA Satreskrim Polres Dairi masih mendalami dugaan penganiayaan tersebut untuk mengungkap motif dan kronologi lengkap yang dialami AGP serta adiknya, AP.
UZI








Komentar